MERINDUKAN PURNAMA

Merindukan purnama
Oleh: RENI SOENGKUNIE

     Langit senja tlah ditarik perlahan. Sedikit demi sedikit. Kini tinggal pekatnya malam tanpa hiasan purnama. Ah, selalu saja begini. Jutaan mozaik emas yang tersebar seperti butiran wijen itu seolah berkedip-kedip. Merayu mataku untuk tak berhenti mengaguminya. Kutahu bintang kecil itu hanya ingin mengajakku bermain mata. Bersenda gurau ditengah dinginnya malam yang mencekam tubuhku.
Tidak! Malam ini aku malas bermain dengan bintang-bintang itu. Sudah terlalu sering kuhabiskan waktuku hanya untuk mendengarkan ocehan bintang kecil itu. Hambar rasanya. Toh bintang-bintang itu hanya diam melihat kesendirianku disetiap malam.
Aku masih terdiam diteras depan kala jarum jam tlah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Entahlah, malam ini aku lebih senang menghabiskan malamku untuk memandangi langit seorang diri. Yah, sendiri. Hanya ada aku dan bayangan hitam mirib diriku.
Aku pun tak tahu kenapa purnama pun enggan keluar malam ini. Malu-malu bersembunyi dibalik awan hitam yang menggumpal. Aku sudah bosan dengan jutaan bintang yang tak pernah bosan mengejek kesendirianku. Aku iri pada rentetan bintang yang berkumpul. Mereka bersinar bersama-sama. Seolah tak pernah sendirian diluasnya langit yang membentang diangkasa.
Lewat semilir angin malam yang menyapu wajah lelahku. Lagi-lagi wajah-wajah pada masa lalu itu kembali hadir di malam sepiku ini. Membuatku terusik akan ketenangan. Terngiang wajah polos yang berlarian dihalaman rumah itu. Tersenyum manis dalam pelukanku. Ah, wajah itu. Selalu kurindukan dalam wajah purnama yang kini menghilang digelapnya malam
"Mas, sudah malam, tidurlah sejenak" suara Witri yang keluar dari balik pintu.
"Aku belum ngantuk, Dek" jawabku.
Diletakannya secangkir teh hangat di atas meja. Dan dia duduk disampingku. Menatap langit yang mulai menghitam. Tak tahu kenapa malam ini dia keluar dari rumah dan mau duduk disampingku memandangi malam yang tak lagi cantik.
"Tidurlah dulu, nanti aku akan menyusul" ucapku.
"Nanti saja, Mas, aku masih ingin bersamamu disini."
"Angin malam tak baik untuk tubuhmu itu."
Aku tahu persis bagaimana kondisi tubuh Witri. Tubuhnya tak terbiasa terkena udara malam sedingin ini. Kutahu dia menahan dingin dari balik switer tipis berwarna merah jambunya itu.
Dia tersenyum. Dipegangnya tanganku erat-erat.
"Biarkan kuhabiskan malam ini bersamamu" tuturnya lembut.
Aku tak bisa berkata apa-apa kala senyumnya merekah saat meminta padaku. Padahal ku tahu, kesehatannya akhir-akhir ini kurang baik. Aku takut udara malam kan mencekam tubuh lemahnya itu.
"Kau tak pernah berubah, Mas" ucapnya sambil memandangi wajahku”
"Dari dulu hingga sekarang kau tak pernah bosan menunggu purnamamu itu" tambahnya.
Aku tersenyum. Begitulah Witri selalu saja mampu membuatku tersenyum walau hatiku tengah berbalut kegelisahan.
"Aku rindu Nisa, Dek"cetusku lirih.
"Yah, aku pun juga rindu pada mereka."
"Apa mereka tak pernah rindu pada dua orang tua ini, hingga mereka jarang pulang?"
Witri tersenyum.
“Mereka juga rindu pada kita”jawabnya.
“Dari mana kau tahu?”
    Witri hanya tersenyum.
Aku terdiam. Kupandangi satu persatu bintang yang masih berpijar. Seolah menanyakan keberadaan purnamaku. Entahlah, malam ini aku benar-benar rindu pada buah hatiku. Benar kata Witri, mereka kini bukan lagi anak kecil yang selalu kutimang dan kubuai dalam pelukanku. Aku masih ingat jelas bagaimana wajah mereka kala tidur dipangkuanku. Dan aku tak pernah lupa suara rengekan mereka kala meminta sesuatu dariku.
"Kau masih ingat saat hari pernikahan anak kita?" tanyaku setelah lama terdiam.
Witri menoleh ke arahku dan perlahan dianggukan kepalanya.
"Mereka dulu berjanji akan sering-sering menengok kita disini" ucapku.
"Mungkin mereka sibuk dengan urusan kantornya."
"Apakah terlalu sibuknya mereka, hingga telefon pun mereka tak sempat"
Witri kali ini tak bersuara. Mulutnya terkunci rapat. Pandangannya jauh menerawang ke langit tanpa batas itu.
"Apa suami Nisa yang melarang mereka untuk datang kemari?"ucapku.
"Kurasa tidak!"
"Lantas kenapa mereka tak juga pulang, tahun ini dan dua tahun kemarin mereka tak juga pulang kerumah" kataku dengan nada kecewa.
Namun lagi-lagi witri hanya terdiam dalam sunyi.
"Kenapa kau hanya diam, tak bisa kah kau jawab pertanyaanku itu, ah kau tak pernah merasakan rindu sepertiku karena kau hanya bisa diam"
Aku pun mulai kesal dengan witri yang dari dulu hanya bisa diam menyikapi semuanya. Begitulah dia. Selalu duduk disampingku dan hanya mendengarkan setiap keluh kesahku.
Malam semakin tua. Pagi kan segera menjelang. Namun aku dan Witri masih duduk diteras rumah berdua. Berdiam diri berjam-jam. Seolah mempermaikan sang waktu yang membolak-balikkan kehidupan setiap insan.
"Sebentar lagi subuh, masuklah ke dalam" suruhku pada witri.
Dia  menggeleng.
"Biarkan aku menemanimu hingga pagi menjelang, agar tak ku lihat kekalutan dihatimu"ucapnya.
"Kau tak kan pernah tahu bagaimana perasaan seorang ayah yang merindukan buah hatinya"
"Yah, aku memang tak tahu dan tak kan pernah tahu"
Witri menghirup nafas dalam-dalam. Disandarkannya tubuh kecilnya dikursi. Ditatapnya mataku lekat-lekat.
"Aku memang tak pernah menjadi seorang suami ataupun seorang ayah, namun aku pernah merasakan betapa rindunya aku pada ayah saat kau meminangku dan membawaku pergi jauh dari pelukan ayah, aku pun juga pernah melahirkan seorang putri yang ku sayangi dari rahim hingga dia beranjak dewasa"
"Aku pun rindu pada ayahku saat itu dan betapa beratnya saat ku lepas Nisa dari pelukanku, itulah kehidupan,Mas"
Aku tertegun mendengar ucapan Witri barusan. Selama ini dia hanya diam tanpa pernah mengeluh padaku. Tanpa ada penyesalan saat mengarungi hidup bersamaku.
"Kenapa kau tak pernah cerita padaku?"tanyaku.
Dia menoleh kearahku. Dan tersenyum lebar.
"Saat kau memilihku untuk menjadi istrimu, mulai saat itulah harus kulepas keegoisanku karena engkaulah yang kelak kan menemaniku disaat semua orang kan meninggalkanku"
Sungguh aku tak mampu berkata apa-apa dihadapannya. Hanya mampu terdiam membisu. Ku kira dalam diamnya tak pernah ada rasa peduli terhadap perasaanku yang letih ini. Namun aku tak ada artinya jika dibandingkan kesabarannya.
Ku tatap matanya yang dengan seksama. Kubelai rambutnya yang mulai memutih. Dan kugenggam jemarinya yang mulai keriput. Betapa bodohnya diriku selama ini. Bertahun-tahun aku termenung menunggu purnama yang tak kunjung muncul. Menanti sesuatu yang kuanggap begitu indah. Konyol.
Didalam diri Witrilah ku miliki keindahan yang lebih indah dari sekedar purnama. Yang keiklasannya lebih terang dari sinar purnama. Dan kesabarannya lebih mempesona dari sempurnanya purnama.
"Terima kasih tlah mendampingiku" bisikku lirih.
Selama puluhan tahun mendampingiku baru kali ini kulihat dia meneteskan air mata. Sungguh hal terbodoh yang ku lakukan dalam hidupku. Kini dilangit yang tlah menjelma pagi. Kurasakan kelapangan yang membelit hidupku disetiap malam. Biarlah kulepas mereka.
Purnama itu kini tlah ku temukan.

    Mukakuning, 22 april 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild