Arti Kota Batam Di Mataku. Bagimana denganmu?


Pulau kecil di perbatasan negara Malaysia dan Singapura ini sudah tak asing ditelingaku sejak kecil. Batam sudah kondang sejak dulu dengan melimpahnya industri elektronik disana. Disana itu surganya barang-barang elektroknik yang murah meriah jika dibandingkan kota-kota besar di Pulau Jawa. Disana juga destinasi wisata belanja barang-barang import. Seperti tas ataupun parfum. Harganya? Entahlah, jangan tanya saya, saya juga belum pernah beli.

Namun tak tahu kenapa, image buruk selalu melekat pada jantung kota Batam. Yah, kota ini terkenal dengan tempat malam yang melimpah ruah. Di kota ini juga angka pekerja sex komersial berada diurutan yang wuahlah.
Batam itu begitu menyeramkan bagi saya saat itu.

Agustus 2009, hari pertama puasa Ramadhan.
Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di tanah Batam. Sengatan matahari pagi tang begitu terik menyambut kedatangannya di Pelabuhan Sekupang di pagi itu.
Kau tahu rasanya berdiri seorang diri ditengah orang yang belum begitu kau kenal dan kau berada ber mill-mill jauhnya dari kampung halaman.

"Ini akan baik-baik saja," bisikku pada hati yang begitu gelisah akan sebuah ketakutan.

Aku melangkah mengikuti alur hidupku disini. Meski aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti, apa aku akan kalah atau menyerah, setidaknya aku pernah mencoba melewati jalan yang belum pernah ku jamah sebelumnya.

Di sebuah asrama yang sering di sebut 'Dormitori', aku tinggal bersama 16 orang yang sama sekali tak ku kenal sebelumnya. Mereka pun berasal dari berbagai kota yang berbeda. Ada yang dari Jawa Timur, Jawa Barat, Manado, Jambi, Jogja, Jawa tengah, yang dari hati juga ada ( abaikan..).

Di asrama itu aku belajar banyak hal, tentang sebuah kemandirian.
Aku harus mengerjakan pekerjaan rumahku sendiri. Tak ada tangan ibu yang menyiapkan nasi goreng untuk makan pagiku. Tak ada tangan ibu yang menyiapkan baju-baju bersih dan rapiku dilempari. Semua harus aku kerjakan dengan tanganku sendiri. Kau tahu kan, saat itu aku masih gadis remaja berumur 18 tahun yang tak bisa melakukan pekerjaan rumah. Aku tumbuh menjadi gadis manja ibu, yang selalu menyerahkan apapun pekerjaanku padanya. Dan di tempat ini adalah ujian yang tak mudah bagiku.

Memutuskan bekerja setelah lulus sekolah adalah keputusan yang aku buat sendiri. Aku tak mau terus berada di bawah ketiak ibu. Aku tak ingin selamanya menjadi gadis manja ibu yang tak bisa apa-apa. Makanya aku akan berjuang sendiri untuk membuatku kuat di tanah rantau ini.

Apa bekerja di pabrik elektroknik yang bunafit itu mudah? Tidak saudara-saudara. Ini seperti kontroversi hati. Dimana hatimu akan tercabik cabik dengan ucapan yang tak mengenakan dari berbagai macam sumber suara. Sudahlah, tak perlu di ceritakan, pasti semua juga tahu tak ada pekerjaan yang mudah di dunia ini. Jadi, aku ra popo.

Batam mengajarkanku akan sebuah kerinduan. Kau tahu betapa berat beban kerinduan yang selalu ku bawa di setiap hariku? Lebih berat dari jalinan cinta yang rumit(halah..abaikan).
Yah, setiap hari bayang-bayang orang-orang terkasih seakan mengajakku bergegas hengkang dari tempat ini. Wajah bapak. Wajah ibu. Wajah kamarku yang berantakan(ehhh..), wajah desaku. Tentu sebuah kerinduan akan selalu meminta energi yang besar.
Tapi aku simpan kerinduan itu di langit malam. Hingga tak akan ada orang yang bisa menemukanmu berlinangan air mata karena sebuah rindu. Tidak, aku akan tetap berbahagia walau rindu terus membisikiku dengan tipu muslihatnya.

Batam bagiku adalah tempat untuk meneguk secangkir susu coklat yang hangat. Disanalah aku menemukan teman-teman yang luar biasa. Seseorang yang sudah ku anggap saudara dalam hidupku. Mereka yang tulus membagi kebahagian kepadaku. Mereka yang tak sungkan menemaniku tertawa di sepanjang hariku. Dan mereka yang menuliskan namanya di cerita hidupku.

Di setiap sudut kota ini mempunyai arti tersendiri bagiku. Meski terkadang hidup di sini terasa pahit dan menyedihkan. Namun aku tetap merasakan rasa manis di setiap tegukan yang aku jalani.

Di kota ini aku belajar menjadi pribadi yang kokoh dan kuat seperti halnya jembatan Barelang. Aku belajar tentang sebuah keindahan hati seperti halnya Costarina dikala senja. Aku belajar sebuah keikhlasan seperti halnya Bukit Senyum  dikala malam.

Agustus 2012
Untuk terakhir kalinya aku menghirup udara Batam di bandara Hang Nadim.
Aku akan kembali dimana aku memulai kisahku. Namun sejauh apapun aku akan melangkah nanti, kota ini akan selalu membawa arti dalam hidupku.
Ini kisahku, perjalanan selama seribu hari di Kota Batam.
Tentu masih banyak hal indah lainnya yang belum sempat ku tuliskan.

Bagimana denganmu? Apakah Batam juga seindah itu bagimu?
Yuk bagikan kisahmu, tulis di komentar yah.
Terima kasih sudah mampir dan baca tulisan saya



Tidak ada komentar