Ayah Mengapa Selalu aku Yang Harus Terus Mengalah?



. .  foto : Https://lonelypince.wordpress.com

Sejak kecil ayah selalu mengajariku banyak hal dalam kehidupan ini. Ia selalu menanamkan benih kebaikan di setiap hati anak-anaknya. Tak peduli kapan benih itu tumbuh dan berbuah. Tugasnya hanya menjaga dan merawat agar ladang hati anak-anaknya tidak kering dari kasih sayang.

Lelaki itu selalu memintaku untuk ringan meminta maaf atas kesalahan yang aku lakukan. Dan ia juga memintaku untuk meringankan bibirku dengan senyuman saat ada seseorang melakukan kesalahan padaku.

Terkadang aku ingin bertanya pada ayah. Kenapa aku harus selalu mengalah atas perlakuan mereka yang tidak baik padaku. Ayah, selalu memintaku untuk menjaga bicaraku dengan baik agar tidak melukai hati setiap orang yang mendengarkan perkataanku. Tapi kenapa ayah juga memintaku untuk berlaku lembut kepada mereka yang menyakitiku dengan perkataannya itu.

"Kenapa Ayah, bukankah mereka lebih tua umurnya dari aku?"

Lelaki itu melempar senyum atas pertanyaanku.

"Karena kau adalah putri kecil ayah," lelaki pemilik senja itu kembali tersenyum kepadaku, "setiap orang mungkin akan menua setiap harinya tapi tidak semua mendewasa."

Aku tak mengerti apa yang Ayah inginkan dariku. Ia hanya selalu memintaku untuk terus bersabar ketika seseorang melukai hatiku. Aku harus selalu mengikhlaskan setiap kata menyakitkan yang keluar dari mulut mereka. Aku juga harus terus bersikap manis dan penuh kegembiraan meski hatiku tengah terluka.

Mengapa harus aku, Ayah?
Aku harus bersikap penyayang dan mengalah pada mereka yang lebih muda dariku. Aku harus menjadi panutan dan menjadi dewasa. Namun aku juga harus menghormati orang yang lebih tua dariku. Aku harus mengalah memberikan jalanku pada mereka.

Lantas di kesempatan yang mana aku bisa menang, Ayah?

"Biar ayah tanya padamu," sorot matanya yang teduh itu menatapku dengan seksama.

"Apa kau bahagia bisa menyakiti seseorang?"
Aku menggeleng. Tidak. Hatiku akan ikut terluka saat aku melihat orang lain terluka karena sikapku.

"Apa kau bisa tersenyum puas saat melihat orang yang menyakitimu ikut merasakan sakit hati yang kau rasakan? Bukankah rasanya sakit?"

Aku menganguk. Iya, ayah. Hatiku begitu sakit saat mereka dengan mudahnya merengkuh hatiku dengan luka.  Tidak. Aku tak mau mereka merasakan luka seperti yang aku rasakan. Aku tak mau berbagi luka yang sama dengan mereka.

"Putriku, ayah tau itu tak mudah. Tapi percayalah, setiap kau mengalah untuk mengikhlaskan lukamu,  kau adalah pemenangnya."

"Meski ayah tahu, kau tak salah tapi tak ada salahnya kau mau menurunkan egomu untuk berdamai dengan luka. Jadilah obat dari segala macam luka, jangan justru menjadi luka bagi orang lain."

"Ayah, terima kasih untuk setiap benih kesabaran, ketulusan, serta keikhlasan yang kau taburkan di hatiku."

Teruntuk Ayah terhebat di dunia ini.
Salam sayang dari putri kecilmu.

Tidak ada komentar