Catatan Hati seekor Kucing Liar



Terlahir sebagai kucing kampung tentu bukan keinginananku. Bila aku bisa meminta, tentu aku juga ingin dilahirkan menjadi kucing berhidung pesek dengan bulu lembut yang tebal. Namun apa dayaku, saat aku bercermin hanya nampak kucing dengan bulu pendek dan ekor bundel.

Bila kau tanya apa aku iri dengan kucing-kucing pendatang itu? Jawabanku adalah tidak. Aku tidak iri pada mereka. Aku lebih mencintai parasku yang menunjukan jatidiri tempatku tinggal. Aku memang kucing kampung. Dan aku tak merasa minder dengan corak buluku yang kata mereka norak dan pasaran.



Mereka yang terlahir menjadi kucing bule itu memang beruntung. Ia mendapat makanan enak, bergizi, dan higienis. Mereka pun tak perlu khawatir perut mereka akan kelaparan. Karena sudah barang tentu, sang majikan tak akan lalai memberinya makan serta vitamin.
Kucing rumahan itu memang beruntung, bulunya yang seperti bulu boneka itu selalu dirawat dengan seksama. Mereka dimandikan, di sisir dan di suntik vaksin agar terhindar dari bakteri ataupun kuman. Mereka diberi minum dengan tempat yang bersih. Mereka diberi tempat tidur yang nyaman bahkan tak jarang dari mereka yang ikut tertidur diranjang empuk pemiliknya.

Aku tak menginginkan semua itu. Aku sudah bahagia dengan kehidupan yang aku jalani seperti ini. Aku bisa membersihkan tubuhku sendiri dengan air liurku tanpa harus di sirami air. Kau tau kan, aku tak suka dengan air. Aku juga tak ingin berada seharian penuh di kandang. Aku tak mau jadi pajangan karena keelokanku namun aku tak bisa melakukan apapun yang aku inginkan.

Menjadi kucing kampung seperti ini sudah membuatku bahagia. Aku bisa bebas pergi bermain. Kesana kemari mencari makan. Walau kadang aku kelaparan. Tapi kau tahukan wajahku tak seelok kucing-kucing manja yang tak bisa menangkap seekor tikus itu. Tentu manusia tak akan suka aku berada diantara mereka. Aku hanya seperti seorang pencuri bagi mereka.
Pencuri? Bukankah aku hanya mengambil sedikit makanan dari mereka? Apa dengan itu mereka akan jatuh miskin?
Aku juga tak ingin mencuri bila perutku sudah terisi, tapi apa dayaku, aku tak punya majikan baik hati seperti kucing2 berperut gendut itu.

Ah, andai saja aku menjadi kucing persia. Tentu aku tak akan kesulitan kesana kemari membongkar tempat sampah hanya untuk mencari tulang ikan.

Ah. Andai saja aku menjadi kucing persia. Tentu aku tak akan kebingungan mencari tempat berteduh saat hujan tiba.

Ah, andai saja aku menjadi kucing persia. Tentu akan banyak tangan manusia yang mengulurkan jemarinya untuk membelaiku. Bahkan aku tak perlu kesakitan merasakan tendangan sebuah kaki mereka.

Ah, andai saja. Tapi nyatanya aku hanya kucing liar. Aku tak memiliki majikan. Aku hanya kesana kemari mencari sedikit makanan untuk menghapuskan rasa laparku.

Tapi tak mengapa paling tidak aku memiliki kebebasan dalam menjalani hidupku. Aku bisa bertualang ke dunia yang pahit ini. Entah esok ada makan atau tidak, paling tidak lapar hari ini telah usai kujalani.

...............
Sebuah catatan dari seekor kucing liar yang merindukan tempat berteduh.
Bila kalian melihat mereka, cobalah lihat binar mata mereka. Maka kan kau tahu kata-kata yang ingin ia sampaikan padamu.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild