Saat Kita Dihadapkan Pertanyaan, Mencintai atau Dicintai?




Saat di usiaku menginjak angka dua puluh tahun, aku mulai berpikir tentang sebuah cinta. Apakah cinta sejati yang sering orang gadang-gadangkan di negeri dongeng itu benar adanya. Apa mungkin akan ada seorang pangeran tampan yang datang dengan seekor kuda putihnya. Dia yang membawa setangkai mawar merah. Dan membawa si gadis itu ke istana yang begitu megah dengan taman bunga yang begitu luas dan indah.

Apa itu kisah cintaku? Tentu saja. Bukan!
Realita yg sering aku dengar dalam prahara percintaan adalah ketika kamu dicintai seseorang yang tak kau cintai, sedangkan kau mati-matian mencintai seseorang yang tak mencintaimu.
Ironis bukan. Tragis lebih tepatnya.

Lantas bagaimana kita akan menemukan pasangan yg tepat jika cinta seperti itu terus saja hadir. Apa yang harus kita pilih. Mencintai tanpa dicintai ataukah dicintai tanpa mencintai?

Sebelum menjawab pertanyaan rumit itu, mari kembali sejenak untuk memahami arti mencintai dan dicintai.

Ketika kita mencintai seseorang kita akan dituntut untuk menjadi pribadi yg lebih baik disetiap harinya. Kita akan bersemangat menjalani hari dengan inovasi yang baru. Kita akan selalu bahagia walau hanya dengan menatap binar mata teduhnya.

Sedangkan,

Ketika kita di cintai, kita akan menjadi seseorang yg spesial. Kita akan menjadi kita yang apa adanya, tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain untuk menarik perhatian pasangan kita. Karena sudah jelas, pasangan kita akan menerima kita apa adanya.

Lantas, mencintai atau dicintai?

Tidak munafik. Semua orang tentu mengharapkan ia bisa dicintai oleh orang ia cintai. Perfect bukan.
Tapi sayangnya, kadang kenyataan memberi pilihan yg lain. Dan tidak semua kisah cinta semudah itu.

Biar aku katakan, sampai dua tahun aku berpikir keras untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Aku banyak bertanya pada ustad dan guru. Aku banyak mendengar cerita mereka yang sudah merajut cinta dengan jalinan pernikahan. Dari cerita bahagia hingga cerita yang akhirnya berujung pada tetesan air mata.

Apakah kita bisa hidup bahagia bersama orang yang tidak kita cintai di sepanjang hidup kita?
Apakah kita bisa kuat mencintai seseorang sepanjang hidup kita tanpa ada rasa cinta untuk kita?

Pertanyaan itu seperti momok yang menghantui malam-malam panjangku. Membuatku semakin merenung di usia yang semakin menua.

Ini masalah kedewasaan. Sebuah kesiapan. Dan akhirnya aku tahu jawaban itu. Aku mencari kemana-mana jawaban atas pertanyaan itu, aku bertanya ke sana kemari tanpa menemukan jawaban yang tepat.

Dan jawaban itu ternyata dekat. Begitu dekat. Dan jawabannya adalah hati kita.
Ia adalah kunci dari semua ini.

Aku pernah berpikir, apa iya semua orang yang menikah bertahun-tahun itu mereka berdua memiliki rasa yang sama di awal mereka memulai sebuah hubungan. Kita harus ingat, bahwa pangeran itu tak selalu berwajah tampan. Ia yang bertubuh pendek dan berkulit hitam pun bisa dikatan begitu menawan layaknya seorang pangeran oleh hati.
Kita harus ingat, bahwa istana itu tak selalu berlapis emas. Sebuah rumah berlapiskan anyaman bambu pun bisa dikatakan istana termegah oleh hati.

Lantas berlian seperti apa yang bisa menandingi berharganya waktu?

Saat hatimu bisa menerima maka kau akan tetap bahagia, ini masalah keyakinan dalam diri kita masing-masing.
Mereka selalu berkata bahwa waktu bisa mengubah perasaan seseorang. Maka percayalah dengan sebuah kesabaran, kebersamaan dan waktu, rasa itu akan terpupuk dengan sendirinya.
Jatuh cinta itu bukankah seperti memasak?
Saat kau telah dapat memasak makanan yg lezat, maka tugasku selanjutnya adalah menjaga agar cita rasa itu tak berubah selamanya.

Mendewasalah dengan anggun, percaya bahwa tak ada kesempurnaan yang dimiliki seorang manusia. Itu tinggal bagimana kita menyikapinya.

Sudah terinspirasi untuk mencintai orang yang begitu mencintai kita?
Jangan cari terlalu jauh, kadang dia ada disekitar kita. Hanya kita yang kurang peka.

Selamat mencintai dan berbahagia dengan cinta .


~Reni Soengkunie~

Tidak ada komentar