Sebuah Hujan Untuk Bapak



Bagi sebagian anak-anak, hujan diiringi sambaran petir dan gemuruh suara geledek tentu akan membuat mereka berteriak histeris. Hujan deras dan kilatan petir cukup ampuh untuk membuat anak-anak lari ketakutan. Banyak diantara mereka yang bersembunyi dan tidak berani keluar rumah kala hujan tiba.

Namun tidak untuk gadis kecil berambut ikal dan berkulit coklat muda itu. Saat hujan deras itu tiba, ia justru menjulurkan tangannya dari jendela hingga air hujan dengan mudahnya membasahi jemari kecilnya itu. Ia tersenyum dan menengadahkan tangannya ke atas.

"Terimakasih ya Allah, kau telah mendengarkan doaku, jangan lupa kirimkan beberapa petir ke bumi ya."



Lagi-lagi gadis gemuk bermata bulat itu tersenyum. Kali ini ia menyudahi rapalan doanya dengan membasuh telapak tangannya yang basah itu ke mukanya. Yah, gadis kecil berusia lima tahun itu adalah aku.

Aku begitu bahagia sekali kala jutaan air itu di jatuhkan Tuhan dari langit. Aku seperti melihat harapan di setiap tetes air hujan itu. Aku sedang tak menunggu indahnya pelangi hingga rela meminta turunnya hujan setiap hari. Aku juga tidak terlalu suka bermain hujan-hujannan. Karena aku tahu, aku akan kena omel ibu jika bermain di tengah hujan deras.

Seperti yang ku katakan tadi. Ini adalah sebuah harapan. Mungkin terdengar sedikit kejam, tapi ini hanya doa seorang anak kecil. Yah, aku berharap hujan alan turun deras dengan jutaan kilatan petir. Dan semoga diantara banyaknya petir itu, akan ada petir yang menyambar instalasi listrik. Jika itu terjadi, maka sudah barang tentu bapak akan mendapatkan pekerjaan. Dan ia bisa pulang dengan uang 10 ribu rupiah. Ah. Kala itu uang segitu sudah lumayan banyak untuk kami.

Benar sekali, bapakku adalah seorang tukang listrik. Setiap harinya ia bekerja untuk membetulkan instalasi listrik dari rumah ke rumah dan dari desa ke desa. Tapi itu bukanlah pekerjaan yang tetap dan setiap hari ada. Tentu, pekerjaan itu akan ada jika ada listrik yang rusak. Makanya aku berdoa agar petir-petir itu bisa membantuku untuk merusak instalasi listrik.

Kala itu hidup kami begitu susah. Uang dari menjadi tukang listrik tentu tak cukup untuk biaya makan dan sekolah emPat anak. Bapak tak punya sawah. Ia hanya mengerjakan sawah orang untuk di tanami padi ataupun sayuran. Namun bukan bapakku kalau ia menyerah. Ia akan lakukan apapun agar kami bisa makan dan tetap sekolah.

Sebenarnya bapak bukan dari bidang listrik. Ia lulusan smk penjualan. Bukankah itu tak masuk akal, dari jurusan penjualan hingga jadi tukang listrik. Itulah bapak. Ia terus belajar dan belajar. Ia tak mau menyerah pada keadaaan. Meski takdir tak bisa di lawan tapi masih ada nasib yang bisa di rubah.

Bapak tak pernah memasang tarif dalam pekerjaannya. Ia menerima berapapun yang diberi. Terkadang bapak diberi uang lebih jika customernya orang yang lumayan kaya, namun jika yang datang pada bapak orang miskin dan tak punya , bapak tak mau menerimanya. Benar kami memang miskin, tapi bapak mengajariku untuk menolong mereka yang lebih membutuhkan. Mungkin tak bisa membantu uang atau materi, tapi selagi bisa membantu tenaga maka bantulah. Bapak juga tak mau menerima upah jika yang ia perbaiki rumah tetangga kami. Bagi bapak tetangga itu sudah seperti keluarga, jadi sudah barang wajib harus tolong menolong.

Nama bapak sebagai tukang listrik sudah lumayan kondang di desa-desa tetangga. Banyak orang yang datang ke rumah untuk minta tolong. Dan sudah barang tentu aku lah orang yang lari paling kencang membuka pintu jika ada suara motor yang berhenti di depan rumah.

"Asyik, bisa jajan mie ayam," pikirku saat itu.

Di jaman itu makanan paling enak bagiku adalah mie ayam. Harganya masih 750. Tidak sembarang hari bahkan bulan aku bisa memakannya. Tapi jika bapak ada proyek listriknya saat pulang nanti bapak akan membelikan dua bungkus mie ayam untuk kami. Iya dua bungkus tapi di bagi enam orang. Hahhhaa tapi sungguh kala itu adalah mie terenak yang pernah aku makan. Bukan karena rasanya tapi karena sedikit dan berebut. Itulah kenapa Allah selalu memberi kenikmatan dalam sebuah kekurangan.

Tapi terkadang aku kasihan pada bapak. Sangat tengah malam, dalam tubuh lelahnya yang bekerja seharian di sawah, ia harus pergi membetulkan listrik. Yah, ada orang yang mengetuk rumah jam 12 malam. Mereka meminta tolong karena listrik mereka mati dan ada bayi. Meski hujan dan dingin yang menyayat kulit, ia tetap pergi. Tahukan bagimana udara di kaki gunung. Itu hanya demi uang sekolah kami. Ah, bapak.
Meski kini si tukang listrik itu telah menua dan tak lagi bermain dengan taspen, tang, dan teman-temannya, tapi entah mengapa aku masih saja sumringah kala melihat hujan turun. Ah, bapak.

Tidak ada komentar