Surat Untukmu Dari Diriku Pengagum rahasiamu


Untuk lelaki berparas senja

Aku tak tahu secara pasti, mulai kapan aku terkesima akan semburat mentari sore di pelupuk matamu itu. Aku juga tak mengerti tentang sebuah perasaan yang aku rasakan saat melihat segaris senyuman yang tergores di bibir tipismu. Aku hanya tak sanggup menghentikan kedua mataku tuk terus memandangimu. Aku tak mampu menahan degup jantungku tuk berjalan pelan saat menatap wajahmu. Dan aku tak bisa mengendalikan pikiranku tuk berhenti sejenak memikirkanmu.
 Mungkin disetiap lekuk wajahmu mengandung serbuk-serbuk magnet, hingga mata, hati, dan pikiranku terseret tuk terus mendekat ke arahmu.

Rasa sesak didadaku ada bukan karena rasa sempit karena berada di titik terjauh dalam hidupmu, Tapi rasa sesak yang sesungguhnya ada ketika aku tuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta namun aku tak bisa memilikinya. Tidak. Memilikimu adalah sebuah impian yang sulit untuk kuterjemahkan dengan akal sehat. Itu seperti halnya aku berdoa meminta rintikan hujan dikala musim kemarau. 




Aku hanyalah gadis yang tak pernah lelah berdiri di sudut kelas. Menatapmu dengan binar kebahagian dari balik jendela kaca. Aku mengahabiskan waktuku di sekolah ini hanya untuk memandangi lelaki yang tengah duduk bersenda gurau bersama teman-temannya di bawah pohon akasia di belakang sekolah. Yah, akulah gadis yang selalu memperhatikanmu dari jauh. Yang hanya bisa menuliskan namamu di batang pohon akasia yang selalu menjadi sandaran tubuhmu. 

Kau tahu, terkadang aku iri dengan pohon akasia itu.Aku ingin sekali menjadi pohon itu. dimana kau selalu menumpahkan lelahmu di tubuh pohon itu. Ia bisa seluasa memendangimu dari dekat. Ia bisa dengan jelas mendengarkan betapa renyahnya suara tawamu. Dan ia adalah tujuan dari langkah kakimu kala engkau keluar dari kelas. bahkan sebelum aku melangkah maju, aku sudah kalah dengan sebatang pohon akasia.

Kau tahu sudah berapa kali rasanya aku ingin berlari kearahmu. Berdiri satu langkah di hadapanmu. Mengungkapkan sebuah rasa yang sudah ku pendam jauh di sela-sela akar akasiamu itu. namun lagi-lagi, aku tak punya nyali untuk itu. Aku tak ingin daun yang tengah bersemi itu gugur seketika saat aku mengungkapkan sebuah kejujuran hati ini. 

Biarlah, semua rasa ini menjadi sebuah rahasiaku bersama kaca jendela dan akasia tanpa pernah kau sadari keberadaanku. Selamanya aku kan jadi seorang pengagum yang setia pada senja. Yang kan selalu merapalkan kebahagianmu di setiap denyut sore. Yang akan ikut tersenyum kala langit kan memerah. Dan yang akan ikut bahagia saat ratusan bunga akasia itu merekah kekuningan bersama keindahan senja yang terlukis dari senyum, tawa, dan kebahagiannmu. Aku sudah cukup bahagia dengan semua hal tentang dirimu.
Terima kasih telah menjadi senja yang begitu indah di masa putih abu-abuku.
 
Meski aku bukan malam yang akan selalu kau nanti, tapi ingatlah satu hal aku adalah pagi, yang selamanya akan menunggu senja.

Dari seorang gadis di penghujung pagi

Tidak ada komentar