Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Petani Tua Yang Gemar Membaca

Gambar

Pak, Kenapa Aku Harus Selalu Mengalah?

Gambar
#Cangkir 1
Mengalah tak selamanya kalah. Saya setuju dengan hal itu, tapi kadang jika kita terus-terusan mengalah tentu itu tak mengenakan sekali. Apalagi jika kita berada pada posisi yang benar. Kenapa harus kita yang mengalah? Kenapa bukan orang lain saja yang mengakui kesalahannya?

Kisah Tentang Bimo Si Kucing Gembul Yang Sakit-Sakitan

Gambar
Tiga tahun lalu, sekitar awal April 2016, saya mengadopsi kucing Persia flatnose long hair. Sebenarnya saya kurang suka memelihara kucing ras. Selain perawatannya lebih susah, saya lebih suka mengadopsi kucing-kucing liar. Bukan karena saya benci dengan kucing ras, tentu saja bukan, ini hanya semata-mata karena saya merasa kasian sama nasib kucing liar. Banyak orang beranggapan bahwa memelihara kucing ras merupakan sesuatu yang wah, sehingga mereka abai dengan para kucing liar yang begitu mengenaskan hidupnya yang tinggal di jalanan.

Review Kumcer Mata Yang Enak Dipandang-Ahmad Tohari

Gambar
Mata Yang Enak Dipandang merupakan kumpulan cerpen yang terdiri dari lima belas cerita. Tak ada kesinambungan dari satu cerpen dan cerpen lainnya, namun jika kita menraik benang merahnya, semua cerita dalam kumcer yang ditulis oleh Ahmad Tohari ini kebanyakan merupakan sebuah cerita tentang jeritan kaum marginal. Dengan latar, alur, serta penokohan yang berbeda, kita akan diajak menyelami satu-persatu persoalan yang dialami oleh para orang’kere’ di negeri ini.

Review Novel Koplak

Gambar
Buku ini bercerita tentang seorang lelaki kelahiran 31 Septermber 1971 bernama I Putu Koplak atau yang kerap disapa dengan sebutan Koplak. Ia merupakan kades di Desa Sawut. Sebuah desa kecil dan terpencil yang mungkin tidak akan ditemukan dengan bantuan aplikasi Google Map. Meski begitu warga desa hidup sejahtera dengan bekerja sebagai petani dan berternak, dan Koplak dengan bangganya selalu merasa bahwa ia sudah berhasil dalam memimpin desa kecilnya itu. Saat orang kota tengah bingung dengan harga beras yang melonjak naik, warga desa ini tetap tenang, Karena mereka sudah terbiasa mengganti makanan pokok mereka dengan umbi-umbian. 

Mencicipi Pempek Super Enak Di Depan Stasiun Bekasi

Gambar
Minggu lalu, saya ada acara di Jakarta. Saya berangkat pagi-agi sekali dan pulang setelah ashar. Saat pulang, saya naik KRL dari Stasiun Manggarai dan rencana turun di Stasiun Cikarang. Setelah sampai Stasiun Cikarang, maka saya akan melanjutkan perjalanan ke Karawang menggunakan kereta api lokal jurusan Tanjung Priok-Purwakarta. 
Sialnya, kereta KRL yang saya tumpangi itu penuh banget. Jangankan buat duduk, buat geser kaki aja susahnya minta ampun. Sampai di Stasiun Klender saya kepala saya mulai pusing dan perut mual. Mungkin karena kareta sesak sehingga ac tidak berfungsi maksimal kali ya. Tapi saya menduga ini bukan perkara mabuk kendaraan, tapi lebih kemasalah perut. Dari pagi hingga sore itu, saya baru makan satu kali. Jadi, sudah jelas ya. Pusing dan mual ini disebabkan karena saya lapar.

Review Film Aladdin 2019

Gambar
Kemarin, 23 Mei 2019, Film Aladdin mulai ditayangkan perdana di seluruh bioskop di Indonesia. Saya yang sangat suka cerita-cerita Disney, tentu saja tak akan melewatkan film legendaris yang diadaptasi dari buku Arabian Night atau Kisah Seribu Satu Malam. Secara garis besar, tak banyak hal yang berubah dari film animasi Aladdin pada tahun 1992. Meski film ini tak lagi dibuat kartun, namun saya merasa tetap menganggap film Aladdin ini terasa hidup dan benar-benar nyata.


Kabar-kabarnya juga yah, film Aladdin ini dibuat untuk menghormati atau mengenang Robin Williams. Ia merupakan aktor senior yang dulunya menjadi pengisi suara Geni di film kartun Aladdin. Tentu masih ingat dong siapa itu Geni. Yup, Geni adalah jin berwarna biru, dengan jabul aneh, dan tingkah yang lucu. Dia adalah jin yang nantinya akan ditemukan Aladdin di dalam sebuah gua.

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Gambar
Berlatar di sebuah negara Timur Tengah, Nawal El Saadawi seolah ingin membuka mata kita semua, bahwa di negara yang terkenal dengan nilai-nilai agama yang luhur itu ada sebuah ketidakadilan yang begitu nyata. Perempuan yang terlahir di negara tersebut seolah memang sudah ditakdirkan semesta untuk menjadi budak lelaki.

Mungkin kalau berbicara tentang kehidupan patriarki semacam itu, tak jauh beda dengan kehidupan pada zaman era Kartini dulu. Di mana perempuan hanya berkutat pada dapur, sumur, dan kasur. Perempuan-perempuan ini memiliki perlakuan yang amat jauh berbeda dengan anak laki-laki. Meski mereka sama-sama memiliki otak, namun perempuan seolah tak layak untuk menimba ilmu di sekolahan. Derajat mereka tetaplah rendah dibanding lelaki.

Review Novel Botchan

Gambar
Apa hal paling menyebalkan di dunia ini? Bertemu dengan orang bermuka dua. Begitulah kurang lebih cerita dalam buku ini. Sebuah penggambaran tentang penolakan sesuatu yang tidak semestinya. Sosok yang suka terus terang dan selalu bicara apa adanya. Namun hal ini yang kadang membuat si tokoh ini mengalami banyak kesulitan dalam menangani orang lain.
Tokoh dalam buku ini bernama Botchan. Dalam kehidupan masyarakat Jepang, bisa dibilang Botchan ini julukan untuk seorang tuan muda yang penuh bergelimangan kemanjaan. Namun pada nyatanya Botchan bukanlah 'Botchan'. Botchan bukan seorang tuan muda dari keluarga kaya. Masih adanya nama itu hanya dikarenakan seorang wanita tua bernama Kiyo.