Review Novel Botchan



Apa hal paling menyebalkan di dunia ini? Bertemu dengan orang bermuka dua. Begitulah kurang lebih cerita dalam buku ini. Sebuah penggambaran tentang penolakan sesuatu yang tidak semestinya. Sosok yang suka terus terang dan selalu bicara apa adanya. Namun hal ini yang kadang membuat si tokoh ini mengalami banyak kesulitan dalam menangani orang lain.

Tokoh dalam buku ini bernama Botchan. Dalam kehidupan masyarakat Jepang, bisa dibilang Botchan ini julukan untuk seorang tuan muda yang penuh bergelimangan kemanjaan. Namun pada nyatanya Botchan bukanlah 'Botchan'. Botchan bukan seorang tuan muda dari keluarga kaya. Masih adanya nama itu hanya dikarenakan seorang wanita tua bernama Kiyo. 


Kiyo sudah puluhan tahun bekerja di rumah Botchan, dan kasih sayangnya pada Botchan begitu tulus, bahkan lebih tulus dari kasih sayang ayah dan saudaranya sendiri. Sudah berulang kali, keluarga itu menyuruh Kiyo untuk mencari pekerjaan baru di tempat lain, namun Kiyo berkeras bahwa ia ingin tetap mengabdi pada keluarga itu dan ingin tetap bersama Botchan.

Sejak kecil Botchan selalu berbuat ulah. Dia merupakan anak yang ceroboh dengan segala pemikiran gilanya. Sudah beruang kali , Botchan hampir mencederai dirinya sendiri karena ulahnya yang absurd itu.

Di rumah, ia bahkan bertengkar sengit dengan ayah dan kakak lelakinya, hingga mereka berdua menganggap bahwa Botchan tidak ada lagi di dunia ini dan bukan lagi bagian dari keluarga mereka.

Hanya Kiyo-lah yang tetap percaya bahwa sebenarnya Botchan adalah anak yang baik. Meski semua orang berkata bahwa Botchan tak memiliki masa depan, namun Kiyo satu-satunya orang yang percaya bahwa di masa depan Botchan akan menjadi orang sukses. Ia akan memiliki uang banyak dan membeli sebuah rumah besar untuknya dan Kiyo. 

Hingga akhirnya setelah dewasa Botchan hanya menjadi seorang guru. Sebuah profesi yang tanpa sengaja ia terima. Karena pekerjaan itulah, ia harus berpisah dengan Kiyo dan harus tinggal di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian Tokyo. Sebuah desa yang akan membuat Botchan begitu muak dengan budaya serta sistem yang ada di tempat itu. 

Di sekolah itu, Botchan menemukan banyak kendala yang tidak sesuai dengan prinsip yang ia pegang. Botchan memang tidak digambarkan sebagai sosok guru yang sempurna. Ia tidak pintar, tidak berbudi pekerti baik, ia bahkan bukan guru dengan paras yang tampan. Semuanya yang ada pada diri Botchan hanya biasa-biasa saja. Namun satu hal kelebihan dalam diri Botchan, dia orang yang berani bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat. Jika salah, dia mengaku salah. Jika keliru maka dia katakan keliru. Sedangkan, di sekolah itu, ia menemukan begitu banyak orang munafik yang menyebalkan. Orang yang sudah jelas-jelas berbuat salah, tapi masih mengelak dan beralasan dengan sebuah kata-kata yang diramu secara manis.

Berikut ringkasan masalah yang akan dihadapi Botchan di desa itu:

Pertama, Botchan sangat benci dengan kebiasaan orang desa yang senang ingin tahu urusan orang lain. Ia merasa semua orang itu tak punya pekerjaan lain selain ikut campur urusan orang. Kehidupan pribadi Botchan pun rasanya seperti direnggut paksa.

Kedua, siswa-siswa di sekolahnya sangat amat menyebalkan. Mereka sangat kurang dalam memahami pengertian arti kata menghormati. Botchan yang merupakan guru baru pun dibuat kesal setengah mati oleh mereka. 

Botchan dulunya juga bukan siswa yang baik, tapi dia cukup jantan untuk mengakui kesalahannya. Tidak seperti siswanya itu, yang hanya berani main belakang. Sialnya, sekolah justru melindungi kesalahan siswa dengan mengatasnamakan kelalaian guru dalam mendidik. 

Padahal kalau salah harusnya yah salah. Siswa yang melakukan kesalahan sudah semestinya mendapatkan hukuman. Agar nantinya mereka bisa belajar dari kesalahan yang mereka perbuat. Guru tidak seharusnya melindungi kesalahan siswa yang salah.

Ketiga, aturan sekolah sangat tidak relevan dan efisien. Ada sebuah kegiatan yang seharusnya tak perlu repot-repot untuk dikerjakan. Namun karena semua itu sudah seperti tradisi yang turun-temurun maka sekolah masih saja menjalankan kegiatan tersebut. Sungguh sebuah pekerjaan yang tidak berfaedah dan sia-sia.

Pemikiran kuno dan monoton, membuat tempat itu sulit untuk berkembang dan maju. Padahal untuk menjadi sekolah yang modern dan maju, harus ada dobrakan perubahan. Lantas, bagaimana mana mau maju kalau sistem yang digunakan masih itu-itu saja?

Keempat, Orang bermuka dua, licik, dan mau untungnya sendiri selalu ada dalam sistem. Mereka sangat pintar bicara di depan umum untuk menutupi segala kebusukan yang ada. Orang-orang seperti ini, biasanya yang selalu berpengaruh dalam sistem yang bekerja. Sungguh, orang-orang yang berbahaya.

Mengetahui karakter Botchan yang suka memberontak tentu saja, tinggal di desa seperti itu bukan hal yang pas untuknya. Bersama seorang teman sesama guru, bernama Hotta, Botchan ingin mencari sebuah keadilan. Ingin memaparkan sebuah keadaan yang memang tak semestinya. Ia ingin memperbaiki keadaan yang ada. Ia tak mau hanya diam saja melihat sebuah ketidakadilan yang ada. Apa itu mudah? Tentu saja sulit. 

Meski Natsume Soseki ini ingin membuat sebuah karya satire tentang kehidupan masyarakat Jepang, namun sebagian poin-poin penting yang dibawakan oleh Natsume ini cukup relevan untuk disandingkan dengan keadaan yang ada di Indonesia. Tantangan untuk perubahan dalam dunia  pendidikan di negeri ini pun tak jauh beda dengan segala hal yang diceritakan oleh penulis kelahiran Tokyo tahun 1867 ini.

Sungguh, sebuah perjalan hidup yang menyenangkan untuk diikuti. Dengan gaya cerita yang asyik dan penuh jenaka, buku Botchan ini merupakan sebuah novel sastra klasik yang memukau. Luar biasa.

Judul           : Botchan
Penulis        : Natsume Soseki
Penerjemah: Indah Santi Pratidina
Penerbit.     : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : Cetakan keenam, 2016
Tebal            : 217 Hal
ISBN             : 978-602-03-3167-6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild