Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)




Berlatar di sebuah negara Timur Tengah, Nawal El Saadawi seolah ingin membuka mata kita semua, bahwa di negara yang terkenal dengan nilai-nilai agama yang luhur itu ada sebuah ketidakadilan yang begitu nyata. Perempuan yang terlahir di negara tersebut seolah memang sudah ditakdirkan semesta untuk menjadi budak lelaki.

Mungkin kalau berbicara tentang kehidupan patriarki semacam itu, tak jauh beda dengan kehidupan pada zaman era Kartini dulu. Di mana perempuan hanya berkutat pada dapur, sumur, dan kasur. Perempuan-perempuan ini memiliki perlakuan yang amat jauh berbeda dengan anak laki-laki. Meski mereka sama-sama memiliki otak, namun perempuan seolah tak layak untuk menimba ilmu di sekolahan. Derajat mereka tetaplah rendah dibanding lelaki.
Dalam novel ini diceritakan tentang kisah seorang perempuan bernama Firdaus. Sedari kecil, dia selalu merasa bahwa selalu ada jarak antara dirinya dan sang ayah. Tak ada sapaan, Tak ada pelukan, apalagi kasih sayang. Ayahnya sibuk berdoa dan beribadah.

Dalam ingatan Firdaus kecil sudah tergambar bahwa lelaki adalah tuan , sedangkan wanita wajib untuk meyaninya siang dan malam. Meski sudah bekerja, melayani, dan harus mengurus anak yang terus lahir dari tahun ke tahun, tapi lelaki tetap berkuasa untuk memukuli sang istri tanpa ampun. Dan tak ada dosa bagi lelaki yang memukul istrinya sendiri.

Lalu paman Firdaus hadir. Dia seorang lelaki terpelajar yang lemah lembut. Tapi tetap saja dia seorang lelaki. Di mana dia memiliku nafsu syahwat yang tak pandang bulu. Anak sekecil Firdaus yang belum tahu apa-apa pun, harus merasakan sebuah pelecehan seksual.

Dulu rumah selalu diagung-agungkan sebagai tempat paling aman bagi seorang perempuan. Lalu apa kini yang terjadi? Pelecehan seksual justru sering terjadi di dalam rumah sendiri. Oleh anggota atau kerabat keluarga sendiri. Ironis bukan?

Setelah remaja Firdaus harus menjalani sebuah perjodohan yang tak ingin ia lakukan. Harus menikah dengan seorang kakek tua yang mukanya ada koreng dengan nanah yang selalu mengeluarkan bau busuk. Apakah Firdaus punya kesempatan untuk menyurakan pendapatnya? Tidak! Itu bukan pilihan tapi sebuah keharusan. Karena perempuan tak punya hak bersuara ataupun hak memilih.

Setelah menjadi seorang istri, kehidupannya tak jauh beda dari sang ibu. Menjadi budak suami. Melayaninya segalanya, termasuk melayani hasrat syahwatnya. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya Firdaus yang membangkai harus ditindih oleh lelaki yang tidak dia cintai dengan sebongkah nanah yang baunya sangat busuk.

Tak hanya itu Firdaus pun dipukuli setiap hari oleh suaminya yang tak tahu diri itu. Lalu saat Firdaus mengadu pada keluarganya karena perlakuan suaminya itu, mereka justru menyarankan Firdaus untuk kembali pada suaminya. Lagi-lagi, semua itu karena perempuan memang diciptakan untuk menjadi budak. Jadi setelah menikah, tak masalah mau diapakan perempuan tersebut. Bahkan hal tersebut dianggap tidak menyalahi aturan agama. Apa pun yanh dilakukan lelaki pokoknya selalu benar dan perempuan hanya bisa nurut tanpa bisa berkomentar.


Akhirnya Firdaus pergi dari rumah. Berkelana di jalanan, hingga akhirnya dia berkenalan dengan seorang lelaki. Awalnya dia mengira bahwa lelaki itu berbeda dengan lelaki lainnya, namun pada akhirnya dia tetaplah lelaki. Dia yang pada akhirnya menjadikan Firdaus sebagai tawanan pemuas nafsunya belaka. Tak cukup sampai di sana, lelaki itu bahkan mengajak teman-temannya untuk merasakan tubuh Firdaus secara bergantian.

Lalu hadir seorang penolong yang membantu Firdaus untuk kabur. Hingga dia bertemu dengan seorang wanita yang kemudian mengubah Firdaus menjadi perempuan yang cantik. Di depan sebuah cermin, untuk kali pertama Firdaus melihat penampakan wajahnya. Dia kemudian belajar untuk menghargai dirinya sendiri, dia bernilai, dan tak sembarang orang bisa menaiki tubuhnya.

Singkat cerita, Firdaus menjadi seorang pelacur kelas atas. Dia kini bisa menentukan tarifnya sendiri dan bisa memilih orang yang ingin dia ajak tidur di ranjang. Yah, kata Firdaus, menjadi pelacur terkadang lebih terhormat dibanding menjadi istri yang diperbudak.

Namun, akhirnya Firdaus mulai tertampar dengan sebuah pernyataan kawannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan dengan sebuah ijazah SMP-nya. Di sanalah untuk kali pertama dia jatuh cinta pada seorang lelaki. Lelaki yang pada akhirnya tetap seorang lelaki. Yang hanya ingin menikmati tubuhnya tanpa harus keluar uang.

Dan terakhir, Firdaus harus kembali bertemu dengan seorang lelaki yang menyebalkan. Seorang lelaki yang berprofesi sebagai seorang germo. Lelaki yang akhirnya membawa kisah akhir Firdaus ke jeruji besi untuk dijatuhi hukuman mati.

Yah, mungkin mati lebih baik dibanding menjalani hidup yang menjemukan seperti yang dialami Firdaus ini. Sungguh berat untuk hidup sebagai seorang Firdaus, seorang perempuan yang terlahir di negara penganut paham patriarki. Di mana lelaki selalu berkuasa atas hidup perempuan. Di mana lelaki adalah tuan dan perempuan adalah budak.

Mungkin kalau saya pribadi kesetaraan gender itu yang dimaksud bukan wanita ingin sama dengan lelaki. Bukan. Karena pada hakikatnya lelaki dan wanita punya peranan yang berbeda, dan keduanya tak bisa hidup sendiri tanpa yang lainnya. Lelaki butuh perempuan dan begitu sebaliknya. Namun, sudah semestinya wanita juga memiliki derajat untuk dihargai, dihormati, serta dilindungi.

Jangan ada lagi perbudakan yang mengatasnamakan agama. Karen saya yakin, kaidah dalam ajaran agama tidak ada yang sampai menyakiti dan membuat umatnya menderita sepihak.

Semoga tak ada lagi Firdaus-Firdaus yang lain, yang harus merasakan beban berat terlahir sebagai seorang perempuan di zaman sekarang ini.


Judul.     : Perempuan Di Titik Nol
Penulis.  : Nawal El-Saadawi
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun     : Cetakan kesebelas, 2014
ISBN        : 978-979-461-867-4

Dibaca via @ipusnas.id






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Film The Call Of The Wild