Mencicipi Pempek Super Enak Di Depan Stasiun Bekasi

Pempek palembang


Minggu lalu, saya ada acara di Jakarta. Saya berangkat pagi-agi sekali dan pulang setelah ashar. Saat pulang, saya naik KRL dari Stasiun Manggarai dan rencana turun di Stasiun Cikarang. Setelah sampai Stasiun Cikarang, maka saya akan melanjutkan perjalanan ke Karawang menggunakan kereta api lokal jurusan Tanjung Priok-Purwakarta. 

Sialnya, kereta KRL yang saya tumpangi itu penuh banget. Jangankan buat duduk, buat geser kaki aja susahnya minta ampun. Sampai di Stasiun Klender saya kepala saya mulai pusing dan perut mual. Mungkin karena kareta sesak sehingga ac tidak berfungsi maksimal kali ya. Tapi saya menduga ini bukan perkara mabuk kendaraan, tapi lebih kemasalah perut. Dari pagi hingga sore itu, saya baru makan satu kali. Jadi, sudah jelas ya. Pusing dan mual ini disebabkan karena saya lapar.


Sampai di Stasiun Bekasi saya sudah tak tahan lagi dan memutuskan  keluar dari stasiun untuk mencari makan. Setelah keluar dari stasiun, hal pertama yang saya lihat adalah warung penjual pempek di seberang jalan tepat di depan stasiun. Alamak, semesta seolah tahu apa yang saya inginkan. Sudah lama saya tak makan pempek.

Akhirnya saya menyeberang jalan dan mulai mengamati warung tersebut. Saya tak menduga bahwa warung pempek tersebut sangat laris. Hampir semua kursi penuh oleh pengunjung, selain itu ada banyak orang yang masih antre untuk memesan. Saya awalnya curiga sih, apa gara-gara warung ini letaknya strategis di depan stasiun, jadinya banyak orang yang beli?

 Saya terpaksa berburuk sangka, soalnya kerap sekali dikecewakan saat makan di kota. Saya kira banyaknya pengunjung di warung makan itu bisa dijadikan tolak ukur kelezatan makanan yang dijual di warung tersebut. Namun saya keliru. 

Menu andalan warung ini tentu saja pempek. Semua orang tentu sudah tahu tentang makanan asal Palembang yang satu ini. Namun di sini tersedia beraneka macam pempek yang sebagian belum pernah saya lihat. Biasanyakan saya cuma tahu pempek kapal selam dan lenjer. Tapi di sini ada juga pempek kulit, pempek tahu, pempek adaan, pempek lenggang panggang, pempek tunu,  keriting, dan pastel. 
Daftar harga


Hal pertama yang saya pertanyakan pada penjualnya adalah lenggang panggang. Bentuknya sangat aneh. Seperti tahu kuning tapi super jumbo. Setelah saya tanya, ternyata itu adalah pempek yang dibungkus oleh telur. Aneh ya, biasanya pempek dalamnya telur. Jadi proses pembuatan lenggang panggang ini biasanya menggunakan daun pisang. Lalu dipanggang. Setelah dipanggang, baru digoreng.
Gambar Lenggang Panggang


Cara pelayanan di warung ini cukup unik sih dari warung pempek yang pernah saya temui sebelumnya. Jadi kita membawa nampan, lalu berjalan sambil mengantre. Semua pempek ditaruh di dalam etalase, jadi nanti kita bisa memilih pempek mana yang kita inginkan dan si karwayannya ini menyiapkan piring berisi pesanan kita. Diujung, kita akan disambut oleh sang kasir untuk langsung membayar tagihan kita itu.

Saat itu saya cuma memesan pempek kapal selam, pempek adaan, dan pempek kulit. Semua kursi di sana sudah penuh, jadi saya harus bersabar buat nungguin orang yang kelar makan. Fyi, untuk kuah pempeknya kita bisa ambil sesukanya di meja ya. Di sini disediakan satu botol besar isi kuah pempek di tiap mejanya. Tersedia juga sambal bagi yang suka pedas. Saya tak perlu ditambahi sambal, soalnya kuahnya saja saya rasa sudah cukup pedas kok.

Setelah saya mencoba pempek ini, ya ampun, sumpah enak banget. Selama hidup 28 tahun di dunia ini, baru ini loh pempek terenak yang pernah saya makan. Jadi, rasa ikan tenggirinya itu kerasa banget. Tekstur dan rasa pempeknya juga sip. Apalagi soal kuahnya, mantap jiwa pokok'e. 

Untuk pempek kulit, teksturnya itu krispi tapi legit. Saya suka nih pempek yang satu ini. Sedangkan untuk pempek adaan, itu bentuknya hampir mirip kayak bakso gitu. Tapi gak ada isinya. Jadi pempek bulat gitu aja kalau menurut saya. Saya gak nyobain  lenggang panggang, sebenarnya pengin sih, tapi apa daya perut saya gak bakalan muat buat makan sebegitu banyak. 

Oh iya, di sini gak cuma menjual pempek doang loh ya. Ada juga tekwan, pindang patin, serta aneka kerupuk khas Palembang. Saya sebenarnya juga pengen nyicipi tekwannya. Dari etalase itu, si tekwan ini tampilannya menggoda banget pengen dimakan. Belum lagi si patin yang duduk manis di mangkok, kayak pengen banget dilahap. Duh, warung ini kok menggoda sekali sih semua menunya. Semua menu rasanya pengen dicicipi semuanya.
Tekwan

Pindang patin

Sebelum pulang, saya ikutan antre lagi buat beli pempek lagi untuk dibungkus dibawa pulang. Sudah jauh-jauh di Bekasi, masak gak bawa pulang. Nanti kalau saya cerita sama orang rumah bahwa saya sudah makan pempek yang enak banget tanpa barang bukti, bisa-bisa saya dibilang hoaks lagi. Hmmm. 

Yuk, cus ke sana dan buktikan sendiri kelezatan pempek di sini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild