Review Novel Koplak



Buku ini bercerita tentang seorang lelaki kelahiran 31 Septermber 1971 bernama I Putu Koplak atau yang kerap disapa dengan sebutan Koplak. Ia merupakan kades di Desa Sawut. Sebuah desa kecil dan terpencil yang mungkin tidak akan ditemukan dengan bantuan aplikasi Google Map. Meski begitu warga desa hidup sejahtera dengan bekerja sebagai petani dan berternak, dan Koplak dengan bangganya selalu merasa bahwa ia sudah berhasil dalam memimpin  desa kecilnya itu. Saat orang kota tengah bingung dengan harga beras yang melonjak naik, warga desa ini tetap tenang, Karena mereka sudah terbiasa mengganti makanan pokok mereka dengan umbi-umbian. 


Koplak sendiri memilih tetap menduda selama berpuluh tahun setelah istri tercintanya, Ni Luh Wayan Langir, meninggal dunia setelah melahirkan anak semata wayangnya, Ni Luh Putu Kemitir. Meski banyak orang yang mendesak Koplak untuk kembali menikah lagi, namun Koplak selalu menolaknya. Dia merasa tak masalah dengan kesendiriannya. Dia merasa heran, apakah hanya wanita saja yang bisa tetap setia untuk tidak menikah lagi? Seolah orang-orang merasa cemas dan membuat banyak dugaan karena Koplak tak mau menikah lagi. Bagi Koplak ia merasa belum ada wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta seperti halnya Langir. Baginya kehadiran Kemitir sudah lebih dari cukup. Bayi merah yang ia asuh sendirian hingga tumbuh menjadi perempuan dewasa. 

kemitir sendiri digambarkan sebagai anak muda zaman sekarang. Berpikiran maju, kreatif, inovatif, namun tetap berpegang pada kearifan lokal. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kemitir memilih tinggal di Denpasar untuk menjalankan bisnisnya. Ia membuka sebuah café kekinian yang menyediakan makanan tradisional yang berupa umbi-umbian serta pisang rebus yang dijual dengan harga yang mahal. Semua bahan makanan itu dibeli Kemitir dari para petani dengan harga yang tinggi. Jadi, secara tidak langsung kemitir ingin juga memajukan para petani di sekitarnya.

Kemitir merupakan anak yang mandiri dan pekerja keras. Dari bisnisnya itu ia bahkan bisa membeli rumah mewah, mobil, serta tanah. Tapi kesuksesan bukan alasan untuk membuat Kemitir lupa akan bape yang sudah merawatnya dari ia kecil. Ia sangat menyayangi bapenya. Dari beberapa interaksi yang tergambarkan dalam buku ini, terlihat bahwa Kemitir sangat rajin berkunjung untuk menjenguk bapenya. Jika pun dia tak bisa menjenguk, ia kan menyuruh sopirnya untuk menjemput ayahnya itu ke Denpansar. Apabila ia tak terlihat dua minggu saja, akan nampak bagaimana kecemasan serta kegelisahan bapak dan anak ini. 

Kemitir sangat suka menyampaikan banyak aturan pada bapenya. Seperti kalau minum kopi itu harus diangkat dan langsung dari cangkirnya, serta tak boleh mengangkat kakinya ke atas. Bagi Koplak tentu ini sangat merepotkan. Ingin minum kopi saja kok banyak aturannya sih! Terlebih kemitir selalu menasihati Koplak untuk hidup sehat dengan banyak makan buah dan sayur, ia juga melarangnya untuk makan babi guling setiap hari. Bagi Koplak, sakit itu sudah menjadi takdir setiap orang. Dia merasa sehat-sehat saja, dan tak ada masalah dengan makan babi guling setiap pagi dan sore. Namun untuk menjaga perasaan anaknya, Koplak selalu menuruti perintah Kemitir, walaupun pada akhirnya ia menyuruh orang untuk membelikannya babi guling.



Kehadiran teman baik Koplak , Pan Balung, sudah seperti seorang penasihat pejabat. Mereka selalu mendiskusikan hal-hal berbau politik yang sulit dimengerti oleh Koplak. Contohnya saja saat temannya itu mengatakan bahwa negara kita ini kaya? Kaya? Yah, kaya hingga kita bisa impor beras dan garam. Kaya yang seperti apa yang dimaksud di sini? Apakah kita masih bangga disebut negara agraris jika beras saja harus impor? Apa kita masih bisa bangga sebagai pelaut hebat jika garam saja masih impor? Padahal ada begitu luasnya laut yang mengelilingi negara kita bukan?

Saya menilai, buku ini seperti hanya sebuah esai dalam bentuk fiksi yang dibawakan secara humor. Sebuah muatan kritik pedas akan keadaan saat ini yang cukup memusingkan. sebuah sudut pandang dari kacamata seorang (mantan) jurnalis. Sosok tokoh Koplak mengajarkan sebuah renungan baru untuk menyikapi segala kegusaran yang terjadi saat ini sebagai sebuah lelucon semata.Sebuah seni menyikapi hidup: koplaknisme. Mungkin belajar ‘koplak’ dari seorang Koplak merupakan opsi untuk memecahkan segala problematika yang terjadi di zaman ini. sungguh buku yang sangat memukau dan kaya akan pembelajaran social.

Judul buku: Koplak
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Grasindo
Tahun: April, 2019
Tebal: 183 hlm
ISBN: 9786020520216


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild