Pak, Kenapa Aku Harus Selalu Mengalah?






#Cangkir 1

Mengalah tak selamanya kalah. Saya setuju dengan hal itu, tapi kadang jika kita terus-terusan mengalah tentu itu tak mengenakan sekali. Apalagi jika kita berada pada posisi yang benar. Kenapa harus kita yang mengalah? Kenapa bukan orang lain saja yang mengakui kesalahannya?


Sejak kecil bapak selalu mengajarkan saya seni untuk mengalah. Entah saya salah atau benar, bapak selalu menyarankan saya untuk mengibarkan bendera putih terlebih dahulu. Meminta maaf akan sesuatu yang mungkin bukan salah saya. Kadang  saya tak habis pikir dengan pemikiran bapak yang terlalu absurd ini. 

Sebagai anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya, tiap kali saya dan kakak lelaki bertengkar pasti saya yang disuruhnya mengalah. Padahal jelas posisinya saya yang kecil, harusnya mereka yang besar yang mengalah. Tapi bapak hanya berkata bahwa  anak perempuan itu tak elok untuk berkelahi. Saya itu juga yang paling aku benci sebencinya itu kala kakak-kakak saya  selalu saja menyuruh-nyuruh ini dan itu. Kata bapak, sebagai adik saya harus patuh kalau disuruh kakaknya. Lagi-lagi saya disuruh mengalah. Tapi yah gak gini juga.

Saya paling benci disuruh-suruh, oleh karenanya setelah dewasa sebisa mungkin saya tak mau menyuruh-nyuruh orang lain. Saya tahu persis gimana gak enaknya disuruh-suruh dan diperintah, jadi saya juga tak mau orang lain merasakan apa yang pernah saya rasakan. Posisi bapak mungkin sama seperti saya yang merupakan anak bungsu. Tapi bapak lebih parah lagi, karena beliau anak bungsu dari pernikahan kedua. Bapak selalu memberi contoh bahwa bapak sosok adik yang penurut dan menaruh hormat pada kakak-kakaknya meski mereka suka berbuat jahat pada bapak. Bapak selalu mengalah dan bersabar. Tetap menaruh hormat dan patuh pada kakak-kakaknya tersebut. Sungguh, untuk menjadi sosok seperti bapak itu berat. 

Bisa dibilang saya ini jenis orang yang keras kepala. Jujur dari dasar hati yang terdalam, di dalam hati saya itu menolak dengan keras kalau ada orang yang berbuat semena-mena. Okelah kalau sekali-kali dimintai tolong, saya gak masalah. Tapi kalau setiap saat disuruh-suruh sedangkan dianya enak-enakan gelokeran di rumah, oho, maaf saja saya tak bisa digituin. Sebagai anak yang lebih muda saya tahu bahwa wajib hukumnya menaruh hormat pada yang lebih tua, tapi bukan berarti bisa disuruh dengan semena-mena. Meski mereka lebih tua, bukan berati mereka bisa seenaknya saja pada hidup saya. Salah ya tetap saja salah, gak peduli itu muda atau tua. Yang salah yah yang minta maaf kan ya harusnya.

Tiap kali saya punya masalah dengan orang lain, saya pun selalu disuruh mengalah oleh bapak. Katanya orang sabar itu disayang Tuhan. Baik, saya tahu, tapi adakalanya juga kita tak bisa tinggal diam akan perlakuan yang tidak baik. Jika salah ya salah, kenapa kita harus mengalah? Enak bangetkan ya mereka, sudah salah tapi kita yang harus minta maaf.

Di setiap hal yang terjadi di kehidupan saya, bapak selalu saja menyuruh untuk mengalah, mengalah, dan mengalah. Mengalah itu berat, Pak! Kadang saya lelah. Ada kalanya saya ingin menjadi manusia yang egois. Ingin melawan mereka yang menyakiti, ingin membalas mereka yang mencaci, ingin mengalahkan mereka yang meremehkan, tapi pesan bapak selalu bergema di benak saya, “Mengalahlah, mengalahlah, mengalahlah,,,.”

Terapi mengalah versi bapak ini ternyata sudah menyatu dalam diri saya. Sehingga ketika ada masalah datang di hidup ini, mengalah adalah cara terbaik yang bisa saya lakukan. Diam, memberi ruang bagi hati yang terluka, lalu berusaha melupakannya. Karena pada kenyataannya, masalah hanya berhenti di situ saat saya memutuskan untuk mengalah. Beda halnya jika aku mendebat, membalas, atau mendendam. Semua akan lebih panjang.

Pernah saya berusaha melepas diri dari sosok gadis kecil versi bapak yang selalu saja mengalah. Saya mencoba memberontak dan bersikap egois, tapi nyatanya hati ini gelisah tak menentu. Hidup saya terasa tak mengenakan ketika saya bersinggungan dengan orang yang punya masalah denganku tadi. saya merasa ini bukan diri saya. Ternyata benar kata bapak, mengalah mungkin membuat saya terlihat seperti pecundang, tapi itulah seni hidup ini.

Dengan mengalah saya mungkin menjadi jiwa yang tersakiti. Mungkin Tuhan memang menciptakan saya menjadi sosok kuat dengan cara seperti ini. Tuhan melindung saya dari kejahatan menyakiti hati manusia lain. Yah, mengalah akan membuat saya semakin kuat dan tangguh. Baiklah, Pak, saya akan terus berusaha untuk bersabar dan mengalah di dalam kehidupan ini.

#Bapak #CeritagadisKecil #SecangkirTehPagiUntukBapak #ReniSoengkunie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild