Petani Tua Yang Gemar Membaca


Cangkir 2

Sejak kecil saya tak terlalu suka dengan kegiatan membaca. Bisa dibilang membaca adalah sesuatu yang paling saya benci. Saya selalu berpikir bahwa membaca merupakan kegiatan yang amat sangat membosankan. Jika dulu saat sekolah banyak teman saya yang menuliskan kata ‘membaca’ sebagai hobi mereka, maka tidak bagi saya. Meski hanya sebagai bentuk kepura-puraan belaka, saya tetap tak rela menuliskan kata ‘membaca’ sebagai hobi saya. 
Bapak dan Saya

Saya tumbuh menjadi dewasa dengan kebebasan tersendiri perihal membaca buku. Orang tua saya tak pernah menyuruh atau memaksa saya membaca. Alhasil, peringkat  saya selalu berada di posisi paling belakang di kelas. Saya sebenarnya bukan murid yang bodoh, tapi saya hanya seorang siswi pemalas yang enggan membaca buku pelajaran. Untungnya bapak saya tak mempermasalahkan hal ini.

Bapak mungkin hanya seorang petani kecil. Setiap hari, beliau habiskan waktunya untuk berkutat di pematang sawah. Tubuhnya yang semakin renta itu setiap hari disengat matahari tanpa kenal ampun. Saya masih ingat jelas bagaimana raut wajah bapak ketika pulang dari bekerja. Letih, penuh keringat, dan sekujur tubuhnya kotor oleh lumpur. 

Tengah hari, sambil istrirahat setelah mandi dan salat zuhur, biasanya bapak akan duduk di teras. Menikmati secangkir teh hangat dan membaca buku. yah, bapak sangat suka membaca buku. Secapek apa pun bapak bekerja di sawah, bapak selalu menyempatkan diri untuk membaca buku. Buku yang dibaca biasanya buku-buku tentang budaya Jawa, keagamaan, serta budidaya tanaman. Buku-buku itu tidak didapat bapak dari membeli, tapi itu buku bekas milik Pakde. Mana mampu kami membeli buku kala itu. Jangankan untuk beli buku, untuk makan saja kami susah. Buku masih merupakan barang mewah dan berharga bagi keluarga kami.

Gara-gara setiap hari melihat bapak membaca buku, secara tidak langsung bapak ingin mengajari anak-anaknya untuk gemar membaca. Bapak tak banyak bicara, tapi banyak member contoh. Bapak ingin mengajari kami, bahwa tak ada batasan dalam belajar. Tak peduli seberapa tua umur, kita masih berkewajiban untuk terus belajar. Bapak mungkin bukan seorang yang terpelajar, bukan pula lulusan sarjana seperti bapak teman-teman saya, tapi bapak adalah seorang yang tak malu untuk terus belajar dari buku dan Dari mana pun.

Kadang saya merasa malu, bapak saya yang sudah tua saja punya semangat membaca yang tinggi , masa saya yang masih muda ini malas benar untuk membaca buku. Akhirnya semesta menggerakan hati nurani saya untuk membaca buku. ternyata membaca buku tak semengerikan dan semembosankan yang saya kira. Saat saya menemukan sebuah buku yang saya minati, saya justru dibuat bahagia dan kecanduan dalam membaca buku. 

Saya masih ingat, tiap kali kami pergi ke rumah Pakde di Wonogiri, bapak selalu membelikan buku yang dijual oleh pedagang asongan di dalam bus. Buku RPUL, RPAL, buku hafalan salat, dan buku-buku lainnya yang dijual dengan harga 2000-5000 rupiah kala itu. Setibanya di rumah pakde, kami begitu bahagia saat pulang dioleh-olehi majalah bekas langganan Pakde. Majalah Joko Lodang, merupakan majalah favorit saya kala itu. 

Dua tahun lalu saya diberi kado oleh bapak dua buah buku. Buu tersbeut sangat tipis dan bentuknya kecil. Buku pertama berisikan tata cara menyehatkan tubuh ala seorang pemalas. Sebuah buku yang saya banget kan ya ini, pemalas. Buku yang kedua berupa sebuah kata-kata bijak dari negeri Cina. Buku yang syarat akan pesan moral dari kehidupan ini.

Menurut ibu, buku itu dibeli bapak di sebuah obralan buku di Pasar Wage. Satu buku tersebut harganya 5000 rupiah. Saya begitu sedih saat menerima dua buku tersebut. Secara, saat ini buku saya begitu banyak memenuhi isi rak buku. Saya kini bisa membeli buku apa pun yang saya inginkan, tapi jujur saja saya merasa dua buku ini jauh lebih berharga dari buku lainnya. Kata ibu, bapak sendiri yang memilihkan dua buku ini untuk saya.

Jika kini saya menjadi seorang pecandu buku, maka hal itu tak lain berkat didikan dan contoh dari bapak saya. Seorang petani yang gemar membaca buku. Saya masih ingat bagaimana buku-buku tersebut menimang bapak hingga beliau sering ketiduran saat membaca bukunya. Sungguh pemandangan yang menyejukan hati.

Terima kasih, Pak, sudah mengenalkan saya pada sebuah buku sejak kecil. Sudah mengajarkan saya nikmatnya membaca buku. Sudah menyemangati saya untuk terus belajar tanpa kenal batasan usia. Kini saya akan teruskan virus membaca pada orang lain.

#SecangkirTehPagiUntukBapak #Cangkir2 #Renisoengkunie 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild