Masalah Yang Yang Ditimbulkan Oleh Kucing Liar Itu Tanggung Jawab Bersama, Bukan Hanya Tugas Pencinta Kucing!



Saya sering sekali membaca atau mendengar keluhan orang-orang tentang kelakuan kucing liar yang dianggap sudah meresahkan dan mengganggu kehidupan mereka. Ada yang sebal karena tiap kali musim kawin, banyak kucing yang berlarian di atas atap sehingga menyebabkan gentingnya pada jatuh dan belum lagi suara mereka yang begitu berisik. Ada yang merasa terganggu saat ada kucing liar yang menumpang melahirkan di loteng rumahnya. Ada orang yang kesal setengah mati saat mendapati ada kucing liar yang pup di halaman rumahnya. Ada bencinya sampai ubun-ubun saat mendapati burung peliharaannya dimangsa oleh si kucing liar. Serta masih banyak lagi cerita-cerita kekesalan lainnya yang diakibatkan hewan berbulu itu.


Kalau masih ingat, dulu juga sempat menghebohkan dunia perkucingan saat video stand up comedy yang dibawakan oleh Panji tentang kelakukan kucing liar yang sangat menjengkelkan baginya itu memancing kemarahan para catlovers.  Dalam stand up-nya itu Panji mengungkapkan tentang kebiasaan jelek kucing liar yang suka meminta-minta saat ada orang sedang makan . Tiap diberi mereka akan minta lagi dan lagi, sehingga memungkinkan makanan yang dia beli itu akan habis dan dia tidak jadi makan. Sehingga tiap kali dia makan dan ketemu kucing seperti itu, maka dia akan mengusirnya.  Beberapa saat lalu Nia Ramadhani juga kembali membuat berita heboh saat dia menceritakan bahwa dia perlu membawa pengawal untuk menghalau kucing liar yang suka mengganggunya saat makan di warung pinggir jalan. 

Saya bukannya mau membela keduanya, tapi memang benar adanya kok, bagi orang yang gak suka  atau takut pada kucing, kelakuan si kucing yang suka mendatangi orang saat makan ini dirasa sangat mengganggu sekali. Tahu sendiri kan bagaimana sikap si kucing yang suka SKSD sama manusia. Kadang gak kenal saja, sudah sok akrab dengan menggesek-gesekan tubuhnya di kaki kita. Kalau bagi saya sendiri yang sangat suka pada kucing sih gak masalah, bahkan kadang pernah saya makan mie ayam, gara-gara ada kucing, saya cuma makan mienya doang dan ayamnya buat si kucing. Tapi kan gak semua orang suka kucing dan nyaman dengan perilaku kucing yang sok dekat sama manusia seperti ini. 

Bagi daerah perkampungan mungkin tidak terlalu kerasa sekali dengan adanya kucing liar ini, tapi untuk daerah perkotaan yang padat penduduk hal ini terasa sekali. Bahkan di kota, keberadaan kucing liar ini sudah dianggap sebagai hama. Jika ada yang mengikuti berita perkucingan tentu juga bakal tahu, bahwa dulu sempat ada berita tentang penangkapan puluhan kucing oleh Dinas Sosial yang dibantu oleh warga setempat. Lalu puluhan kucing ini dikurung dengan kandang yang sesak dan kucing-kucing tidak dirawat dengan selayaknya. Akhirnya karena dirasa tidak ber-prikebinatangan, puluhan kucing ini diambil oleh komunitas pencinta kucing.

Saya sendiri sudah dua tahun tidak memelihara kucing secara pribadi, tapi setiap hari ada sekitar 10-15 ekor kucing liar yang suka main ke rumah untuk menumpang makan. Di teras memang saya sediakan makan kucing beserta minumnya. Selain itu saya juga suka menyediakan beberapa obat-obatan sederhana untuk kucing liar. Seperti obat kutu, obat cacing, saleb jamur, vitamin, minyak ikan, saleb luka, larutan NaCl, baby oil, dan lain-lain. Untuk beberapa sakit yang cukup parah, saya juga suka membawa kucing tersebut ke dokter.

 Lantas suatu hari ada kucing liar yang pup di depan rumah tetangga. Dengan kesal, akhirnya kotoran kucing itu di buang di depan rumah saya. Bagi mereka, memberi makan kucing sama dengan memiliki kucing. Banyak teman saya juga yang tadinya suka memberi makan kucing liar, tapi karena tetangganya anti kucing, mereka tak lagi meneruskan kebiasaan itu. Memangnya salah ya, jika kita itu memberi makan kucing liar? Belum lagi kalau ada yang melakukan katrasi atau steril pada kucing. Orang-orang akan bilang, “Ih, gak kasian ya sama kucingnya? Nanti kualat loh, bis agak punya anak!”

Men-steril kucing kadang dianggap berdosa, tapi melihat kucing yang kelaparan serta sakit dibiarkan saja tidak dosa! Hmm… Sebenarnya dengan adanya gerakan steril kucing liar ini bertujuan untuk menekan laju populasi kucing yang dianggap sudah over populasi. Belum lagi sekarang ini, orang-orang di perumahan itu tong sampahnya sudah pakai tong yang ada tutupnya, sehingga membuat para kucing kesulitan mencari makan dari sisa sampah. 


Saya tahu, setiap yang hidup pasti ada rezekinya sendiri-sendiri, tapi makanan dan obat-obatan itu gak langsung turun begitu saja kan dari langit? Terlebih kucing itu gak sekolah, jadi mana tahu dia bahwa mencuri makanan milik manusia itu termasuk perbuatan tidak terpuji. Mereka juga gak punya uang, guna pergi ke dokter untuk melakukan program KB, berobat, atau jajan nasi ayam di warteg. Kalau mereka kenyang tentu mereka gak bakal ngemis-ngemis minta makan ke manusia kok.
Dengan membuang kucing ke tempat lain itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan masalah baru. Gerakan steril kucing  ini sebenarnya juga sudah didukung oleh pemerintah. Di beberapa puskesmas hewan sering juga diadakan katrasi atau steril gratis untuk kucing domestik. Walau pada kenyataannya koutanya kadang dipakai untuk kucing ras. Wkwkwk
Pemerintah, komunitas pencinta kucing, serta masyarakat harusnya mengambil tugas masing-masing dalam hal ini. Masalah kucing over populasi kucing ini sudah tak bisa dihindari lagi. Kalau semua orang tak peduli, saling melemparkan tanggung jawab, tentu masalah ini tak bisa diselesaikan. Butuh kerjasama bersama.

Sesekali lihatlah kucing liar di sekitar kita. Makin hari bukankah makin banyak saja? Sebenarnya mereka ini juga gak mau kok jadi kucing liar. Kalau bisa memilih mereka juga pengen dilahirkan jadi kucing ras yang berbulu cantik dan dirawat dengan sedemikian rupa oleh pemiliknya. Tapi kembali lagi, setiap makhluk hidup ini tak bisa mengajukan proposal sebelum dilahirkan di muka bumi.
Perlu dipahami, yang bisa merasakan lapar, haus, sakit, itu bukan hanya manusia saja loh! Para kucing liar juga iya. Kalaupun kita memang tak suka tak suka, taka pa. Paling tidak jangan menyakiti yah. Hidup mereka sudah sakit di jalanan, jangan ditambah lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild