Review Film Padman 2018





“Di luar negeri mungkin ada superhero yang terkenal dengan sebutan Batman, Spiderman, Ironman, Aquaman, dan man-man lainnya, tapi di India kita juga punya superhero sejati yang bernama Padman, si lelaki pembalut.”


Kurang lebih seperti itulah inti adegan dari sambutan Amitabh Bachchan dalam acara penghargaan inovasi dalam bidang IT di New Delhi, India. Artis senior kawakan tersebut hadir di film ini hanya sebagai sebuah figuran semata, namun kehadirannya seperti sebuah magnet yang mengungkapkan betapa banyaknya masalah-masalah di India yang belum terpecahkan, termasuk penggunaan pembalut bagi perempuan yang terbilang rendah. Masyarakat India masih belum sadar akan bahaya dari penggunaan kain kotor yang digunakan sebagai pengganti pembalut. Para perempuan pun merasa enggan untuk memakainya karena harga pembalut yang dirasa masih begitu mahal untuk masyarakat dari kalangan menengah ke bawah.

 Film ini sebenarnya merupakan adaptasi sebuah kisah nyata dari Arunachalam Muruganantham, Seorang Padman asal India. Saya tak menyangka bahwa di dunia ini benar-benar ada seorang Padman nyata. Sungguh saya sebagai seorang perempuan, menaruh hormat pada lelaki seperti Padman ini. Tentu tak mudah perjuangan seorang Padman di tengah kehidupan masyarakat yang masih kental memegang budaya patriarki. Di mana orang-orang masih menganggap bahwa haid adalah sebuah aib. Lantas bagaimana bisa masalah vital seorang perempuan justru malah menjadi kegelisahan bagi seorang lelaki?

Padman diperankan secara apik oleh aktor tampan, Aksay Kumar. Di film ini dia berperan sebagai Laksmikant Chauhan, seorang pandai besi tak berpendidikan dan sekaligus suami dari Gayatri. Di awal-awal kita akan disuguhi keromantisan Laksmi dan Gayatri yang merupakan sepasang pengantin baru. Laksmi begitu mencintai dan menghormati istrinya, nampak sekali kalau lelaki itu menganggap bahwa istrinya setara dengan dirinya. Dia tak segan membantu beberapa pekerjaan istri tercintanya.
Laksmi juga dengan penuh kasih sayang membuatkan dudukan sepeda serta mesin pemotong bawang untuk Gayatri. Pokoknya Laksmi ini suami idaman bangetlah. Walaupun bagi sang ibu, anak lelakinya ini seperti sudah kesurupan karena melakukan hal yang dianggap aneh dan tak lazim.
Hingga suatu ketika Gayatri datang bulan dan terpaksa harus tidur di luar rumah. Masyarakat India masih menganggap bahwa wanita yang tengah haid itu kotor. Mereka bahkan tak diizinkan untuk dekat-dekat dengan suaminya ataupun melakukan pekerjaan di dalam rumah. Sehingga sang istri harus tidur di luar rumah. Laksmi menganggpa bahwa hal itu tidak adil dan aturan ini tak masuk akal, tapi sang istri tetap kekeh tak mau masuk rumah.

Laksmi semakin merasa sedih saat tahu bahwa istrinya itu menggunakan kain kotor sebagai pembalutnya. Kain itu pun tidak bisa dijemur secara langsung, karena harus ditutupi dengan sebuah sari agar tidak terlihat orang lain. Lalu bagaimana mungkin perempuan menggunakan kain kotor yang basah? Laksmi akhirnya pergi ke apotek untuk membelikan istrinya pembalut, setelah diberi tahu oleh dokter bahwa angka kematian bagi perempuan sangat besar diakibatkan tidak higienisnya pembalut mereka. 

Gayatri yang tahu harga pembalut itu 55 rupe, akhirnya enggan untuk memakai pembalut tersebut. Untuk menyiasati hal tersebut, akhirnya Laksmi memiliki niat untuk membuat pembalut sendiri. Dia membeli kain dan kapas di pasar. Berulang kali percobaan pembalutnya ini selalu gagal, gagal, dan gagal lagi. Semua ini tentu hingga membuat Gayatri malu dan marah pada Laksmi.

“Tak ada penyakit yang lebih hebat bagi seorang wanita selain rasa malu!” itulah kata-kata yang diucapkan Gayatri ketika dia pergi bersama orangtuanya, setelah Laksmi ketahuan orang kampung tengah menggunakan pembalutnya sendiri saat melakukan uji coba dengan cairan merah dan terjun ke sungai suci. 

Lakmi hanya ingin melihat istrinya dan saudara-saudaranya bisa menggunakan pembalut agar dia sehat dan terhindar dari penyakit seperti yang dikatakan dokter padanya. Tapi sang istri sendiri menganggap bahwa yang dilakukan Laksmi ini begitu memalukan dan tidak wajar. Tak hanya istrinya, tapi ibu dan saudara-saudara perempuannya pun juga begitu. Dia bahkan dianggap sudah gila oleh warga desa. 

Akhirnya Laksmi memutuskan untuk pergi belajar ke kota demi bisa membuat pembalut sendiri. Dia bekerja menjadi pembantu di sebuah rumah seorang profesor guna menyerap ilmu dari sang profesor. Lalu si anak professor ini mengenalkan Laksmi pada mesin pencarian Google untuk mengetahui jenis kapas yang diguankan sebagai pembalut. Tak lama kemudian sang profesor memperlihatkan mesin pembuat pembalut berteknologi tinggi dan harganya sangat mahal, dia menyarankan Laksmi untuk tidak bermimpi begitu tinggi. Setelah tahu bentuk dan kegunaan masing-masing mesin pembuat pembalut, akhirnya laksmi pergi dan menyewa rumah kosong sederhana.

Dia kemudian meminjam uang untuk membuat alat pembalut sendiri. Setelah pembalutnya jadi, ia baru sadar bahwa tak ada seorang pun perempuan yang mau mencobanya. Namun kemudian takdir membuat Laksmi bertemu dengan Pari, seorang gadis cantik yang suka bermain music. Saat itu Pari tengah datang bulan dan membutuhkan pembalut. Dialah pelanggan pertama Laksmi.
Berkat pari-lah, Laksmi akhirnya mau mengikuti kompetisi ke Delhi dan memenangkan sebuah penghargaan dari Presiden serta berfoto dengan Amitabh Bachchan. 

Perjuangan Laksmi untuk membuat perempuan di India menggunakan pembalut, sungguh luar biasa. Makanya kalau ada lelaki yang malu untuk membelikan pembalut untuk istri, teman, saudara, atau ibunya, mungkin perlu menonton film Padman ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild