Sengkuni : Tak Bertahta Tapi Berkuasa

pict : Kompasiana 



Dalam cerita Mahabarata ada seorang tokoh yang mana dia bukanlah seorang raja tapi dia memiliki pengaruh di kerajaan. Dia bukan penguasa di negeri ini tapi entah kenapa suaranya sudah seperti titah seorang raja. Dia selalu berdiri di garis terdepan sebagai juru bicara kerajaan. Meski tanpa tahta, namun dialah pemegang kendali segala kebijakan di kerajaan besar tersebut. Siapa lagi dia, kalau bukan si Sengkuni berkumis tebal dengan mata liciknya yang begitu khas.

Sengkuni selalu digambarkan sebagai sosok penjahat kelas kakap di dalam cerita perpolitikan Mahabarata. Beliau ini juga disebut-sebut sebagai biang keladi adanya perang saudara antara Kurawa dan Pandawa. Bayangkan saja, kerajaan Hastina yang begitu besar dan hebat, di mana para keturunan Kuru itu merupakan kesatria yang luar biasa, nyatanya semua luluh lantah hanya bisikan-bisikan Sengkuni.

Ada yang bilang, hanya Sengkunilah yang bisa menyangi kecerdasan serta kelicikan seorang Kresna. Kalau boleh saya bilang, sebenarnya sih Perang Baratayuda itu bukan perang antara Kurawa dan Pandawa, tapi perang kecerdasan antara Sengkuni dan Kresna. Meski Kresna berada di pihak yang benar, tapi kita harus mengakui bahwa perang di Kurukshetra tersebut Kresna juga melakukan banyak kecurangan. Kalau bukan karena Kresna, tentu saja Arjuna tak akan bisa membunuh Karna dengan busurnya itu. Jika karena bukan Kresna yang meminta Yudistira berbohong, tentu guru Dorna tidak akan gugur. Namun saya akui, kecerdikan Sengkuni memang luar biasa jahat sejahatnya orang.
Sengkuni sendiri sebenarnya memang bukan siapa-siapa di Kerajaan Hastinapura. Dia berada di sana pun hanya kerana belas kasihan kakaknya, Gandari. Tapi lihat apa yang diperbuat oleh Paman Sengkuni ini. Dia selalu sotoy untuk ikut andil di segala kebijakan yang diambil oleh Destrarata, hingga nantinya tahta itu jatuh pada anaknya, Duryudana. Sengkuni yang tak bertahta ini seolah mempunyai remot control di kerajaan itu. Tak salah jika ada yang mengatakan bahwa sebenarnya itu Sengkuni ini adalah raja yang sesungguhnya. Selain itu dia juga pantas dijuluki sebagai menteri di segala bidang. Apa-apa mau diurusi, apa-apa mau dipegang sendiri, apa-apa mau diputuskan sendiri, helooowwww…Situ siapa sih sebenarnya di kerajaan?

Tapi, kita harus ingat kata Joker bahwa orang jahat itu adalah orang baik yang tersakiti. Orang biasanya selalu fokus menceritakan kejahatan dan tipu muslihat yang dilakukan oleh sengkuni, tapi jarang orang mau tahu apa yang melatar belakangi Sengkuni hingga bisa melakukan sebuah kejahatan yang tak akan mungkin dilupakan hingga akhir zaman. Orang jarang bertanya kenapa Sengkuni ingin sekali menghancurkan Hastinapura? Padahal kakak perempuannya itu ratu di sana. Kenapa dia sangat dendam dengan keturunan Pandu?

Jadi, ceritanya dulu itu Sengkuni adalah seorang pangeran yang tampan tapi pendek. Dia dan kakaknya, Gandari hendak mengikuti sayembara. Tapi sayang pandu sudah mendahuluinya untuk mendapatkan Dewi Madrim. Gandari pun jatuh hati pada Pandu yang dianggap suami-able. Tapi sayangnya lagi setelah dia dan kakaknya itu dibawa ke Hastina, Pandu tak mau menikahi Gandari dan justru menyerahkan pada kakaknya yang buta, Destarata. Gandari yang kesal akhirnya bersumpah akan menutup matanya seumur hidup dengan kain, karena tak mau lagi melihat Pandu. Sengkuni yang melihat kakaknya patah hati sebegitu dalamnya seperti itu tentu juga ikut terluka.

Tak sampai di sana luka Sengkuni ini, Gandari dulunya pernah dinikahkan dengan seekor kambing karena suatu hal. Destarata tentu tak terima. Dia begitu marah, dan menyuruh pasukannya untuk menghancurkan kerajaan Sengkuni dan memenjarakan saudara-saudaranya yang berjumlah seratus orang. Di penjara itu mereka hanya diberi sebutir nasi setiap harinya. Banyak saudara sengkuni akhirnya mati. Sengkuni sengdiri tak mau mati sebelum bisa membalas dendamnya pada Hastinapura. Sehingga dia memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati untuk bertahan hidup. Kelak dadu yang akan menghancurkan Pandawa di meja judi itu, juga diambil dari tulang ayah Sengkuni yang mati.

Butuh kesedihan serta kemalangan berlapis-lapis untuk menjadi seseorang seperti Sengkuni. Dia bertahan membalas dendam untuk kehormatan keluarganya. Bagi sebagian orang tentu sengkuni sangat kejam, biang kerok, dan sebusuk-busuknya orang. Namun di sisi lain dia hanyalah seorang pangeran yang kehilangan kerajaannya, seorang saudaranya yang melihat saudaranya mati di hadapannya, seorang anak yang sedih melihat kematian ayahnya, dan dia hanya seoranga dik yang terluka karena kemalangan kakaknya. 

Apakah setelah perang Baratayuda,  Sengkuni akan hilang dari peradapan? Tentu saja tidak. Sengkuni akan selalu ada  di setiap zaman. Dia akan hadir untuk emnghancurhan sebuah negeri. Dia suka menemani para raja-raja di sekitar singgah sananya. Suka membisiki, menghasut, dan juga menggerakan perpolitikan kerajaan dengan caranya sendiri untuk mencapai sebuah ambisi. Kelicikan Sengkuni tentu ada di atas rata-rata. Dia tak tersentuh oleh hukum dan sangat sulit untuk disingkirkan dari sisi raja. 

Jadi kalau ada orang yang tak bertahta tapi memegang kendali di sebuah pemerintahan. Suka membuat kebijakan sendiri tanpa memikirkan rakyat. Suka bicara di garis terdepan sebagai juru bicara sang raja. Mungkin Sengkuni sudah kembali hadir di peradapan ini. Semoga saja tak akan ada lagi Perang Baratayuda jilid dua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beratnya Menjadi Perempuan di Negara Patriarki (Review Novel Perempuan Di Titik Nol)

Review Film The Call Of The Wild