Apa Itu Nomophobia Dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

 


 


Pernah merasa cemas saat baterai handphone kita tinggal beberapa persen lagi? Pernah mengalami kegelisahan ketika handphone kita ketinggalan di rumah? Pernah memiliki perasaan takut berlebihan saat akses Internet di gadget kita tidak bisa digunakan? Atau pernah merasa tidak nyaman saat tidak memegang gadget? Bila mengalami perasaan di atas, bisa jadi ada indikasi menjurus pada gejala Nomophobia. Walaupun tidak serta merta juga, jika kita memiliki beberapa perasaan seperti contoh di atas lantas kita sudah melabeli diri kita sebagai pengidap Nomophobia tanpa pemeriksaan lebih lanjut lagi.

Nomophobia sendiri merupakan singkatan dari no mobile phobia atau sebuah ketakutan saat tidak menggunakan gadget. Berbeda dengan fobia-fobia pada umumnya yang disebabkan hal medis ataupun diagnosis, Nomophobia sendiri merupakan fobia yang terjadi dikarenakan faktor sosial yang mempengaruhi. 

Tak bisa dimungkiri di zaman ini kita memang tidak bisa lepas dari gadget. Segala hal yang kita kerjakan kadang mau tak mau harus bersinggungan dengan gadget. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Semua hal seolah dilakukan secara online dan menggunakan gadget. Jadi tidak heran jika durasi  penggunaan gadget semakin bertambah atau semakin tak terkendali. 


 

Dr. Vivi Syarif, seorang psikiater, menjelaskan bahwa sejauh ini belum ada kasus yang serius dengan adanya Nomophobia ini. Hanya saja dampak buruk orang yang mengidap Nomophobia ini akan mengganggu fungsi sehari-harinya. Mereka menjadi tidak fokus dalam segala hal. Fungsi sosialnya juga akan terganggu, karena hubungan atau relasi dengan orang lainnya menjadi berkurang. Selain itu emosinya juga akan menjadi tidak stabil.

Untuk beberapa kasus Nomophobia ini juga bisa jadi pemicu untuk timbulnya gangguan kejiwaan jika orang tersebut memang sudah punya kerapuhan atau bakat penyakit mental sebelumnya. Di sini Nomophobia hanya menjadi faktor tambahan. Dari gejala Nomophobia ini akan mencetuskan rasa kesepian, takut, tidak diperhatikan, dan memiliki emosi negatif yang berlebihan. Sehingga jika seseorang memang punya bakat gangguan kejiwaan sebelumnya atau mentalnya rapuh, Nomophobia ini bisa jadi sebagai bahan bakar tersulutnya gangguan kejiwaan yang lebih serius.

Nomophobia sendiri biasanya sering dialami oleh anak-anak hingga remaja, walau tidak menutup kemungkinan orang dewasa pun juga bisa mengidap penyakit ini. Baik seorang introvert ataupun ekstrovert sama-sama memiliki potensi mengidap penyakit ini. Hanya saja konteks mereka saja yang berbeda.

Seorang introvert saat kehilangan akses dengan gadgetnya akan semakin terasing dari dunia luar, karena mereka menganggap bahwa gadget adalah penghubung antara dirinya yang penyendiri dengan orang di luar sana. Kehilangan gadget berarti membuat mereka kehilangan akses untuk bersosialisasi dengan orang lain.

Sedangkan untuk orang-orang ekstrovert, mereka memiliki ketakutan untuk tidak bisa bersosialisasi di media sosial. Bisa jadi mereka merasa cemas saat tidak bisa mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia maya. Dia juga tidak bisa bercerita atau membagikan ceritanya pada semua orang di linimasa medsosnya.

Langkah untuk mengatasi Nomophobia ini ada beberapa hal, berikut beberapa cara mengatasi Nomophobia yang saya ringkas dari penuturan Dokter Vivi Syarif:

1.              1. Kita harus ‘aware’ dengan hal ini

Fenomena Nomophobia ini harus diselesaikan dengan sebuah kesadaran. Sadar bahwa ada yang tidak beres dengan diri kita atau anak kita dengan kecemasan yang ditimbulkan dari gejala Nomophobia ini.

Banyak orang tua yang mungkin menyalahkan gadget, padahal ada sesuatu hal lain yang menyebabkan si anak ini terlalu lama bermain gadget. Jangan-jangan orang tua sendiri yang memfasilitasi gadget tersebut dan tidak mendisiplinkan si anak hingga menjadi kecanduan dan sulit untuk dikendalikan. Beberapa anak bahkan sampai mengalami tantrum saat gadgetnya diambil oleh orang tuanya. Oleh karenanya ada baiknya kita harus aware. Jangan langsung menyalahkan gadget sebagai tersangka utama. Tapi kenali diri dan evaluasi tentang kebiasaan tersebut.


 

2.                2. Batasi Penggunaan Gadget

Dalam sehari berapa kali kita bermain hape? Mulai sekarang ada baiknya kita mulai mencatat berapa durasi kita dalam bermain gadget. Tulis semuanya dan catat, lalu evaluasi. Dari data tersebut nantinya akan terlihat apakah dalam sehari kita memang sudah menggunakan gadget terlalu lama.

3.              3. Buat Strategi Pengurangan

Setelah kita aware, mencatat, maka saatnya kita menyusun strategi. Tiap orang tentu memiliki kapasitas yang berbeda, kita sendirilah yang tahu seberapa butuh kita menggunakan gadget. Jika tak penting dan tidak mendesak, maka ada baiknya kita meletakan gadget dan melakukan hal lain yang bisa mengalihkan diri kita pada gadget.

4.               4. Buat Pengumuman Ke Orang Sekitar

Setelah segalanya beres, maka saatnya kita mengumumkan niatan tersebut ke orang-orang di sekitar kita. Dalam menjalankan misi ini, kita harus dibantu orang lain untuk menjadi polisi niat kita. Sehingga ketika kita lengah, ada orang-orang yang akan mengingatkan kita pada misi awal tersebut.

 

#ODOPDAY4 #ODOP #ReniSoengkunie 

pict: Unsplash


Tidak ada komentar