Apa Yang Harus Dilakukan Saat mengalami Quarter Life Crisis?

 



 

Saat ini orang mungkin sering mendengar tentang krisis usia dewasa atau yang dikenal dengan istilah quarter life crisis. Namun tak sedikit orang paham dengan hal ini meski dirinya sendiri mungkin tengah menjadi member yang ikut serta mengalami kondisi tersebut. Jadi, secara sederhananya quarter life crisis ini merupakan sebuah kondisi di mana seseorang sedang dalam fase kecemasan terhadap masa depannya.

Quarter life crisis sendiri biasanya dialami oleh mereka yang berusia sekitar 20-an hingga 30-an awal. Hal ini bisa dipicu karena beberapa faktor. Mungkin factor finansial, karier, relasi, atau mungkin tekanan dari nilai-nilai sosial yang dianut.

“Hidupku kok gini-gini aja ya?”

“Teman-temanku sudah pada lulus kuliah dan mendapat kerjaan yang mapan.”

“Orang lain kok sudah pada sukses ya?”

“Teman seusiaku sudah punya pasangan semua!”

Jika pernah memiliki pikiran seperti kalimat-kalimat di atas maka bisa jadi kita sedang ada di fase krisis kepercayaan diri. Kita merasa cemas akan kehidupan kita yang gini-gini aja dan tidak bisa sesukses orang lain. Pada fase ini kita akan merasa bahwa hidup kita seolah tengah dikerja waktu. Kita akan merasa lingkup pertemanan semakin mengecil, quality time yang kita miliki semakin berkurang, atau kita memiliki perasaan kecewa yang amat sangat mendalam akan hidup yang kita jalani sekarang ini.

Kita akan mulai bertanya untuk apa kita di dunia ini. Kemudian kita perlahan akan kehilangan semangat dalam menjalani hari. Kita merasa di situ-situ saja. Dan bisa jadi kita akan merasa minder dengan teman seumuran yang mungkin sudah sukses dibanding kita.

Menurut The Guardian, orang yang mengalami quarter lifecrisis ini akan memiliki beberapa gejala. Di antaranya gejala tersebut meliputi depresi, isolasi diri, keraguan, kekhawatiran, kebingungan, dan juga demotivasi.

Sebenarnya quarter life crisis ini sangat normal dan wajar dialami seseorang yang akan beranjak menuju ke kedewasaan. Jika kita bisa mengolah keadaan atau kecemasan di fase ini, kita bisa memanfaatkan kecemasan dan keraguan ini menjadi sebuah energi besar yang bisa membuat kita semakin kuat dan tangguh. 

Dengan adanya perasaan cemas ini, kita akan belajar untuk hidup mandiri. Kita bisa belajar untuk mencoba hal baru. Kita akan membuang ketakutan dengan mengambil peluang di setiap kesempatan yang ada. Kita bisa lebih peka dengan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Secara tidak langsung ini akan membuat kita tahu, siapa orang-orang yang benar-benar peduli dengan kita. Dengan ini kita juga bisa belajar menghargai perasaan orang lain dan bisa mengenal serta memahami diri sendiri.


 

Berikut beberapa tips untuk menghadapi quarter life crisis:

1.      1. Berhenti membandingkan diri         sendiri dan orang lain

Kehidupan ini bukan ajang perlombaan. Tidak ada patokan yang mengharuskan seseorang harus lulus kuliah di umur sekian, harus menikah di umur sekian, harus punya anak di umur sekian, harus punya rumah di umur sekian, dan lain sebagainya. Semua itu hanya patokan-patokan yang sering dijadikan kalimat template oleh masyarakat sosial kita untuk memukul rata kesuksesan seseorang.

Ingat, setiap orang punya jalannya masing-masing dalam menjalani hidup ini. Tak perlu insecure jika teman kita bisa lulus kuliah terlebih dahulu. Tak perlu iri jika teman kita bisa mendapat kerja lebih dahulu. Membandingkan diri dengan orang lain itu sangat melelahkan. Lebih baik kita membuat target hidup kita sendiri dan menjalani keseharian kita sesuai keinginan kita bukan keinginan orang lain.

2.    2. Bersyukur atas pencapaian kita

Kadang kala kita terlalu fokus dengan pencapaian orang lain, hingga kita abai dengan pencapaian diri sendiri. Kita lantas menyepelekan semua hasil kerja keras kita sebagai sebuah kesia-siaan semata. Kita merasa apa yang sudah kita kerjakan hanya akan membuat kita berada di situasi itu-itu saja. Ini semua tidak benar. Selama kita sudah bekerja keras, melakukan yang terbaik dalam hidup ini, maka itu bukan kesia-siaan. Jangan bandingkan kesuksesan kita dengan orang lain, itu hanya akan membuat kita selalu terlihat kecil.

Mulai sekarang kenali diri sendiri. Beri apresiasi atas apa yang sudah kita lakukan. Kita harus memahami setiap perubahan kecil yang terjadi di hidup kita. Di saat kita mulai mensyukuri pencapaian kita ini, kita akan terlepas dari jaring-jaring kecemasan karena kesuksesan orang lain.

3.   3. Mengembangkan dan mencoba hal baru

Sering kali waktu kita habis hanya untuk pemikiran-pemikiran negatif akan sesuatu yang masih terlihat abu-abu di depan kita. Maka ini saatnya kita keluar dari zona nyaman dan bergerak untuk mencoba sesuatu hal baruu. Kita bisa menggali potensi kemampuan kita. Terjun mengambil peluang yang ada tanpa perlu kecemasaan gagal.

Saat kita sudah percaya pada diri sendiri, mengenali potensi diri, mengembangkan kemampuan, maka aka nada terobosan baru yang memberikan solusi dari hal yang kita galaukan itu.

#ODOPDAY6 #ODOP8

pict: Unsplash

 

 

 

 

Tidak ada komentar