Berani Berkata ‘Tidak’ Itu Bukan Kejahatan Kok!

 


Kegiatan tolong menolong tentu merupakan sesuatu pekerjaan yang baik dan mulia untuk diamalkan oleh semua orang. Jika ada orang yang minta tolong ada baiknya kita bantu. Tentu saja selama kita mampu dan bisa. Hanya saja di dunia ini kadang suka ada orang-orang yang memanfaatkan kebaikan seseorang untuk terus-terusan minta tolong. Sedangkan ada sebagian orang di belahan Bumi lainnya yang sering merasa kesulitan untuk berkata ‘Tidak’ jika diminta bantuan.


 

Orang-orang yang yang kesulitan berkata ‘Tidak’ jika dimintai tolong ini biasanya terjebak di dalam dilema ‘Nggak enakan’. Mereka kadang merasa sungkan untuk menolak sesuatu yang sebenarnya tidak sepaham dengan hati nuraninya. Tapi yah mau gimana lagi, mau nolak nggak enak. Mau nggak ikut, tapi nggak enak. Mau nggak minjemin, tapi nggak enak. Mau nggak nerima, tapi nggak enak. Dan nggak enak, nggak enak lainnya yang banyak banget dengan berbagai macam versi. Namun pada intinya, mereka terikat akan rasa ‘nggak enakan’.

Saya akui menjadi orang nggak enakan itu emang nggak enak banget. Kita seolah merasa terbebani tiap kali mau menolak sesuatu. Takut kalau kita menolak akan mengecewakan perasaan orang lain. Meski tanpa sadar, apa yang sudah kita lakukan itu mungkin juga sudah masuk ranah menyakiti perasaan diri sendiri. Kita terlalu fokus menjaga perasaan orang lain, hingga abai dengan perasaan pada diri sendiri.

Saat Live IG bersama Dokter Jiemi beberapa waktu lalu, saya sempat mengajukan pertanyaan. Kurang lebih saya bertanya seperti ini, “Dok, saya sering sekali membantu orang lain. Walaupun saya jelas-jelas tahu kalau mereka hanya memanfaatkan saya. Tapi saya merasa lega, setelah bisa menolong mereka dan saya akan merasa terbebani seumpama menolak serta tak  bisa menolongnya. Apakah itu termasuk saya mendzolimi diri sendiri, Dok?”


 

Beruntung pertanyaan saya itu dibaca dan dijawab langsung oleh Dokter Jiemi yang merupakan seorang psikiater idola saya. Setelah mendengar jawabannya, saya sempat tercengang dengan jawaban tersebut. Secara garis besarnya Dokter Jiemi bertanya balik pada saya, jadi sebenarnya apa yang membuat saya merasa lega ketika harus menolong seseorang yang sebenarnya bukan prioritas saya? Kelegaan seperti apa yang saya rasakan? Apakah itu seperti kelegaan ketika orang yang punya utang, di mana setelah menolong , utang seolah berkurang atau hilang dari dalam diri saya. Atau itu jenis kelegaan di mana saya merasa bertanggung jawab untuk menolong semua orang.

Dokter Jiemi juga bilang, jika kelegaan yang saya rasakan itu jenis kelegaan yang memenuhi jiwa saya, itu tak masalah. Namun jika ada yang berkurang atau saya merasa ada sesuatu yang hilang ketika saya membantu, maka saya harus mengkaji ulang ‘kelegaan’ itu. Ada banyak hal untuk mengalihkan kelegaan itu tidak harus dengan membantu orang yang sebenarnya tidak perlu dibantu.

Setelah mendengar penuturan dari Dokter Jiemi itu saya jadi mikir, jadi selama ini saya merasa lega yang seperti apa? Jujur, dari sini saya jadi paham, ternyata saya itu nggak tahu apa-apa tentang diri saya sendiri. Apa yang sebenarnya saya inginkan dan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya seolah punya kewajiban untuk membahagiakan orang lain dan saya merasa terbebani jika tak melakukan hal itu. Bukankah ini konyol?

Saya seharusnya sadar, bahwa saya tak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Menolong orang itu tentu baik, hanya saja saya harus sadar kadar bantuan itu. Jika saya mampu dan bisa, tentu hal itu tak masalah. Namun jika saya harus membantu, di mana saya sendiri tengah repot atau kesulitan, tentu ini namanya menyulitkan diri sendiri. Saya bisa menyelamatkan orang lain dari kesulitan tapi tak bisa menyelamatkan diri sendiri dari kerumitan.

Saya juga diajari, dalam hidup ini mana daftar prioritas kita itu harus jelas. Sehingga kita bisa tahu kadar bantuan kita untuk orang lain. Jika dirasa orang itu bisa mengerjakan dan mengusahakan sendiri, kenapa harus merepotkan orang lain. 


 

Jadi, sekiranya hal itu tidak bisa kita lakukan atau itu menyalahi paham yang kita anut, tak masalah untuk berkata ‘Tidak’. Sebelum membantu orang lain, kita harus terlebih dahulu membantu diri sendiri. Kita harus membahagiakan diri sendiri, hingga akhirnya kita bisa menebarkan energi kebahagian ini ke orang-orang di sekitar kita.

Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Tegas berkata ‘Tidak’. Kita harus sadar, kita tak bisa membuat semua orang suka pada kita.

#ODOPDAY8 #ODOP8 

 

Tidak ada komentar