Impian Orang Tua Yang Kandas, Haruskah Menjadi Tanggung Jawab Anak?

 


                                                                        Pict: Pixabay


Terkadang ada beberapa orang tua yang belum bisa move on dari kegagalannya dalam meraih sebuah cita-cita. Tak salah memang, karena bagi sebagian orang yang begitu gigih mewujudkan impiannya namun harus menyerah karena suatu hal, tentu akan menyisakan sebuah penyesalan yang tak berujung. Mau sekuat apa pun kita berusaha pada kenyataannya waktu yang terlewat tak bisa kembali lagi.  

Karena merasa impiannya itu belum usai, tak sedikit orang tua yang memandang anak-anaknya sebagai cahaya terang yang mungkin bisa mengobati patah hatinya karena impian yang belum usai tersebut. Mereka seolah memiliki motto  baru dalam hidupnya, ‘Tak apa aku tak bisa menggapainya, tapi anakku harus bisa mewujudkannya’. Anak-anak yang tak tahu apa-apa soal mimpi orang tuanya ini lantas harus memikul beban untuk meneruskan impian orangtuanya yang kandas itu.

Ada yang pernah nonton film Dangal? Yah, film India yang diangkat dari kisah nyata seorang atlet gulat tersebut secara kasat mata nampak begitu mengesankannya perjuangan seorang ayah untuk putrinya. Sang ayah yang diperankan oleh Aamir Khan itu harus melepaskan mimpinya untuk mendapatkan medali emas karena faktor ekonomi. Ayah si Aamir Khan  ini memintanya bersikap rasional, karena pada kenyataannya medali emas tak akan membuat perut mereka kenyang. Saat itu pemerintah seolah tutup mata dari kehidupan malang atletnya yang sudah berusaha keras mengharumkan nama negara.

Setelah impiannya gagal, ia lantas menyuruh anak gadisnya untuk meneruskan mimpinya. Ini tentu agak janggal, karena selama ini belum ada pegulat perempuan di daerahnya. Terlebih masyarakat sana masih memegang erat budaya patriarki. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya niat si ayah ada ini baik, dia ingin anaknya mandiri dan tak ingin menikahkan mereka di usia dini seperti halnya anak-anak lainnya. Tapi benarkah si anak ini menikmati proses impiannya mewujudkan medali itu? 

 Dari awal si anak ini menolak dan tak mau bermain gulat. Tapi dia tak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan ayahnya. Dia tak ingin mengecewakan sang ayah dan membuatnya sedih. Pada akhirnya dia menjadi atlet gulat dunia yang begitu membanggakan, namun terlepas dari itu dia harus kehilangan masa kanak-kanak dan masa remajanya. Dia harus berpakaian layaknya lelaki dan harus memotong rambutnya yang panjang itu. Dia harus bekerja keras dan meninggalkan kegiatan perempuannya. 

Kalau mungkin si anak ini memang suka dengan gulat karena dia kerap melihat ayahnya bermain gulat, mungkin tak masalah. Tapi sejauh yang saya lihat, semua itu hanya karena paksaan dan ego sang ayah yang begitu berambisi untuk mendapatkan medali emas untuk mewujudkan impiannya yang kandas tersebut.

 

Tak beda jauh dari cerita Dangal tersebut, saya juga punya seorang teman yang bapaknya sangat berambisi menjadi seorang polisi. Sehingga, sejak kecil teman saya sudah dididik dengan ketat ala kehidupan militer. Sebelum berangkat sekolah, dia harus mengitari desa sebanyak dua kali. Mau dia bangun pagi atau kesingan, orang tuanya tak peduli. Yang penting mereka harus menjalankan hal itu. Padahal saat saya tanya dia, sebenarnya dia tak mau jadi seorang polisi. Dia sangat pandai melukis, dan ingin masuk fakultas seni rupa saat lulus sekolah nanti. Tapi yah gitu, dia tak punya nyali untuk menentang keinginan orang tuanya. Dia takut mengecewakan bapaknya dan disebut sebagai anak durhaka.

Selain dua kisah di atas ada banyak lagi cerita-cerita lain tentang impian orang tua yang diserahterimakan pada anaknya. Ada yang dipaksa jadi PNS, jadi dokter, jadi bidan, dan lain-lain. Tak salah memang bagi seorang anak untuk membahagiakan orangtuanya, tapi perlu diingat lagi bahwa setiap anak juga punya kebahagiaannya sendiri. 

Kadang ada orang tua yang terlalu memaksakan impiannya pada anak. Mereka lupa bahwa anak-anak itu juga punya kebebasan dalam bermimpi. Beruntung jika impian anaknya sama dengannya, tapi jika berbeda harusnya para orang tua juga bisa memaklumi hal tersebut. Kadang yang terlihat baik di mata orang tua itu tak sama dengan apa yang dirasakan anak.

Sama seperti halnya ketika ada orang tua yang ingin mendandani anaknya. Dia menghabiskan banyak uang untuk membelikan baju branded agar anaknya kelihatan semakin kece dan keren. Tapi pada akhirnya si anak malah lebih bahagia memakai baju Upin Ipin yang harganya cuma 30 ribu rupiah. Niat orang tuanya sih baik kan ya, tapi si anak nyaman dan bahagianya pakai itu, mau gimana lagi?

Untuk para orang tua, mohon jangan membebani anak-anaknya dengan sebuah impian kalian yang belum usai. Kalian saja tak bisa mencapainya kenapa harus menyuruh orang lain untuk mewujudkannya? Biarlah anak-anak tumbuh dan merawat impiannya sendiri. Tugas orang tua hanya mendukung dan mengarahkan jika mereka sudah keluar jalur yang semestinya. 

Lalu ketika sang anak bergeming dan tak mau menuruti perintah orang tuanya, lantas si anak dicap sebagai pembangkang. Tentu ini tidak adil bagi impian sang anak. Sadarilah bahwa anak-anak merupakan seorang individu juga yang punya impian dan pilihan sendiri. Jangan rampas impian mereka hanya karena ego dan ambisi di masa lalu.

#ODOP #ODOPDAY1

Tidak ada komentar