Kenapa Orang Depresi Selalu Dikaitkan Dengan Jauh Dari Agama?

 

 Pict: pixabay


"Yaelah, ngapain ke psikiater, itu mah cuma gara-gara kamu kurang dekat sama Tuhan aja!"

 

Beberapa teman yang mengalami depresi sering kali mengeluh pada saya tentang tanggapan orang-orang di sekitarnya perihal depresinya itu. Entah kenapa, orang terdekat bahkan keluarganya tiap dikeluhi akan penyakit depresi yang dialaminya tersebut justru sering kali mengeluarkan komentar semacam itu. Sehingga teman saya yang tadinya depresi justru tambah merasa depresi lagi karena perlakuan orang-orang di sekitarnya. Mereka seolah tak tahu ke mana harus menceritakan masalah yang dihadapinya itu.

Kebanyakan orang mungkin menganggap bahwa penyakit depresi ini hanya disebabkan karena mereka jauh dari agama, Tuhan, dan jarang berdoa. Maka tak heran jika ada orang yang menderita mental illness selalu dikaitkan dengan kurangnya interaksi mereka pada Tuhan. Secara sederhananya, bagi mereka yang menderita penyakit depresi dan teman-temannya itu pasti bakalan sembuh saat kita taat menjalankan sembahyang. Padahal yah gak sesederhana itu masalahnya.

Tak bisa dimungkiri, masyarakat kita itu masih belum pro dengan penyakit mental atau kejiwaan semacam itu. Mereka masih merasa bahwa orang yang datang ke psikiater atau psikolog itu yah cuma orang-orang ‘gila’ saja. Bahkan jika ada anggota keluarga yang datang ke psikiater atau psikolog gitu akan dilabeli sebagai orang gila. Mereka dengan entengnya bakal berkomentar, “Di keluarga kita gak ada keturunan orang gila kok!”

Di lingkungan keluarga saya pun juga masih menerapkan pola pikir semacam itu. Beberapa waktu lalu kerabat saya cerita, bahwa dia mengalami depresi hebat. Setiap malam dia merasa ketakutan karena selalu dihantui suara bisikan, 'bunuh diri...bunuh diri...bunuh diri'. Dia merasa ada suatu dorongan yang menyuruh dia untuk mengakhiri hidupnya. 

Tiap dia cerita ke orang, dia selalu mendapat jawaban yang serupa, "Makanya kamu banyak-banyak ibadah dan berdoa, kayak orang gak punya iman saja!"

Pict: Pixabay

Padahal yah sejauh ini, saya melihat kerabat saya ini sangat taat dalam beribadah. Setiap hari dia sembahyang dan berdoa, tapi yah tetap saja bisikan itu katanya tak mau pergi dari hidupnya. Dia tak tahu harus cerita ke siapa lagi. Akhirnya dia sendirian ke puskesmas untuk datang ke psikiater tanpa didampingi keluarganya. Setelah di psikiater keadaannya mulai stabil, meski masih dalam pengawasan puskesmas dan masih harus mengonsumsi obat sampai hari ini.

Saya tahu sih dia memang mengalami begitu banyak tekanan dalam hidupnya. Semuanya tak mudah untuk dia jalani. Sehingga wajar jika dia merasa depresi yang begitu hebat. Tapi lagi-lagi orang selalu menyepelekan depresi. Tiap kali dia akan mengeluh orang akan bilang, “Di dunia ini emang siapa sih yang gak punya masalah. Gak usah dipikirin banget-banget, lebay amat sih!” Hmmmm.

Selain cerita dari kerabat dekat saya ini, ada juga teman saya yang cerita. Dia setiap hari seperti diikuti oleh seorang badut. Dia merasakan halusinasi secara nyata dan dialami setiap hari. Saat dia mengeluh pada keluarganya, mereka menganggap bahwa keluhannya terjadi karena dia kesurupan atau ketempelan jin. Sehingga bukannya membawa ke dokter, mereka justru merukiyah teman saya ini.

Tentu saja setelah dirukiyah, semuanya tetap sama seperti semula. Hingga di suatu hari saat dia bekendara, dia mendengar si badut itu dan menyuruhnya untuk menabrak orang-orang di jalan. Untungnya hal itu tidak terjadi dan dia buru-buru datang ke psikiater untuk berkonsultasi. Ternyata dia dinyatakan sebagai pengidap bipolar.

Ilmu keagamaan memang bagus untuk mengobati penyakit hati serta menentramkan jiwa. Tapi untuk depresi serta mental illness lainnya ini, menurut saya juga harus diobati dengan cara dan pada orang yang tepat. Sama seperti halnya kalau kita flu atau batuk, kita harus pergi ke dokter kan ya. Kita gak cukup hanya berdoa dan memohon kesembuhan pada Tuhan tanpa kita mau berobat. Nah, kasus depresi atau penyakit jiwa lainnya ini juga kurang lebih sama dengan penyakit lain. Kalau sakit ya, harus disembuhkan dengan cara yang tepat.

Orang depresi itu bukan berarti mereka jauh dari agama dan jarang berdoa loh ya. Jadi mbok ya stop berpikiran kayak gitu. Memangnya kalau kita sakit demam, sakit kepala, dan sakit-sakit lainnya itu dikarenakan kita jauh dari Tuhan? Gak juga kan? Sebisa mungkin  kalau ada orang terdekat kita yang mengalami depresi dan mental illness, bisa kita mendampingi mereka. Kalaupun gak bisa bantu gak usah ceramah dan menyudutkan mereka, itu tentu membuat mereka tambah depresi.

Untuk mengerti apa itu depresi dan bagaimana cara menyembuhkannya, mungkin bisa dijelaskan secara spesifik oleh mereka yang memang kompeten di bidang ini. Di sini saya cuma mau memaparkan  bahwa ternyata masih banyak orang di masyarakat kita yang belum menerima kenyataan bahwa depresi ini merupakan penyakit. Depresi bisa dialami oleh siapa saja, tak peduli dia muda atau tua, laki-laki atau perempuan, dan mau taat beragama atau tidak, depresi tak  pernah pandang bulu. Bisa jadi ada orang-orang di sekitar kita yang tengah butuh bantuan karena depresinya atau bisa jadi juga kita sendiri yang tengah butuh bantuan. Maka jangan ragu untuk ke psikiater atau psikolog jika sekiranya kita butuh bantuan.

#ODOP #ODOPDAY2

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar