Kiat Sukses Keluar dari Zona Nyaman Ala Duo Tikus, Sniff Dan Scurry

 


Kenapa harus bersusah payah keluar dari zona nyaman saat kita sudah merasa betah dengan kenyamanan tersebut? Toh, di dunia ini yang kita cari memang sebuah kenyamanan. Sehingga ketika kita sudah berada di zona yang kita anggap nyaman, lantas buat apa kita harus mempersiapkan diri untuk keluar lagi dari zona nyaman tersebut?


 

Orang yang berpikiran seperti itu mungkin mereka lupa, bahwa apa pun yang ada di muka Bumi ini akan ikut berotasi setiap harinya. Akan selalu ada perubahan-perubahan kecil ataupun besar. Sebuah perubahan yang mungkin mau tak mau dan siap tak siap harus kita hadapi. Namun tak sedikit orang yang belum mempersiapkan dirinya menghadapi perubahan tersebut. Mereka masih bersantai dan berleha-leha di zona yang mereka anggap nyaman. Seolah mereka akan tetap berada di sana selamanya.

Dari buku yang berjudul ‘Who Moved My Chease’ karya Spencer Johnson MD, kita akan belajar mengenali siapa diri kita  lewat karakter tokoh duo kurcaci dan duo tikus. Mereka adalah Sniff si tikus pengendus, yang mana dia bisa mencium adanya perubahan secara cepat. Scurry si tikus pelacak, yang selalu bergegas mengambil tindakan tanpa berpikir panjang. Hem si kurcaci  kaku, yang sering menolak atau mengingkari perubahan karena takut. Dan yang terakhir ada Haw si kurcaci yang selalu mencari titik aman, namun saat keadaan mendesak dia mampu untuk beradaptasi dengan hal baru.

Keempatnya setiap pagi bekerja bersama untuk mencari cheese. Mereka semua memakai sepatu dan baju olahraga. Si duo tikus yang hanya mengandalkan instingnya, terus mencari dan mencari. Mereka menggunakan metode trial and error untuk mencari cheesenya tersebut. Mencoba ke lorong sana, gagal, lalu pindah ke lorong lainnya. Mereka tidak sepintar duo kurcaci yang bisa mengandalkan pemikirannya untuk mencari cheese tersebut.

Suatu ketika keempatnya sudah menemukan sebuah stasiun besar yang berisi begitu banyak cheese. Ada cheese yang begitu banyak hingga orang menganggap sampai mati pun cheese itu tidak akan pernah habis. Setelah bekerja keras dan mendapatkan cheese yang begitu banyak ini, barulah tabiat asli keempatnya perlahan terungkap.

Meski sudah menemukan stasiun besar yang berisi begitu banyak cheese, namun dua kurcaci tetap pergi ke stasiun pagi-pagi sekali. Mereka tetap mempertahankan kebiasaannya setiap hari. Namun kini mereka sudah melepaskan sepatunya agar sedikit bersantai, hanya saja mereka tetap menggantungnya di pundak. Dengan menggantungnya di pundak mereka merasa bahwa jika suatu hari nanti hal itu dibutuhkan, maka itu akan memudahkan mereka untuk menggunakannya kembali.

Hem dan Haw memiliki pemikiran yang berbeda, mereka sudah menganggap menemukan stasiun ini merupakan pencapaiannya yang begitu hebat. Mereka sudah bekerja keras dan bersusah payah setiap harinya. Maka kini waktunya untuk menikmati kerja kerasnya tersebut. Mereka berdua kini tak lagi ke stasiun pagi-pagi, mereka datang agak siangan. Toh, cheese itu tidak akan pergi ke mana-mana jika mereka pergi agak terlambat. Mereka kini juga tak lagi mengenakan sepatunya. Barang itu mereka letakan di sembarang tempat karena berpikir mereka tak akan membutuhkan sepatu itu lagi.

Mereka berempat setiap harinya menikmati kesuksesan dan kenyaman mereka. Hingga suatu hari Sniff dan Scurry mencium sesuatu yang aneh. Mereka merasa semakin hari cheese di stasiun ini semakin berkurang. Karena mencium sesuatu yang tidak beres, akhirnya setelah datang ke stasiun tersebut, Sniff dan Scurry kembali memakai sepatunya dan mulai berkelana di lorong-lorong untuk menemukan chesee lainnya yang lebih memadai di saat persedian cheese di stasiun itu belum benar-benar habis. 


 

Di saat Sniff dna Scurry sudah mulai meninggalkan stasiun, Haw dan Hem baru sadar bahwa chesee di stasiun tersebut semakin sedikit dan akan segera habis. Cheese yang begitu banyak itu sebagian tertutup jamur, hanya saja mereka tidak menyadari sejak awal. Mereka berdua justru marah dan menyangka ada seseorang yang telah memindahkan cheese mereka ke suatu tempat. Ketimbang mencari solusi, mereka berdua justru menyalahkan keadaan dan menyalahkan orang yang memindahkan cheese tersebut.

Haw dan Hem masih saja berkeras kepala untuk datang ke stasiun tersebut meski cheese yang mereka miliki sudah habis. Mereka masih tak mau pergi keluar. Hem merasa dirinya sudah terlalu tua untuk memulai sesuatu yang baru. Dia juga tak tahu di mana terakhir kali meletakan sepatunya. Dia sudah terbiasa dengan kenyamanan yang ia peroleh susah payah selama ini. Dia terlalu takut untuk menerima perubahan dan mencoba hal baru.

Sedangkan Haw, awalnya dia tetap bertahan. Dia juga amat ketakutan untuk keluar dari zona nyamannya tersebut. Namun saat kondisi sudah tidak memungkinkan, mau tak mau akhirnya Haw memberanikan diri untuk keluar sendiri setelah Hem menolak ikut serta dengannya.

“Hem, kadangkala sesuatu itu berubah dan tidak akan pernah sama lagi. Ini sama seperti dahulu. Itulah hidup! Hidup terus bergulir, begitu pula kita.”- Haw (hlm 57)

Di sini juga disebutkan , “Kalau Anda tidak berubah, Anda punah.” Dalam buku ini akan dijelaskan perjalanan ketakutan Haw ketika melangkah keluar dari zona nyamannya tersebut. Di mana dia mengalami dilema dan ketakutannya. Perasaan Haw ini seperti tamparan buat saya yang juga sama takutnya seperti Haw. Di perjalanannya ini Haw menulis pesan untuk sahabatnya Hem di setiap sudut dinding yang ia lewati, ia berharap temannya itu akan membaca pesannya.

Pada akhirnya, setelah melepas rasa takut ada sebuah kelegaan yang dialami oleh Haw. Dia merasa senang setelah bisa melawan rasa takutnya itu. Hingga setelah beberapa kali perjalanan untuk menemukan stasiun cheese, dia akhirnya sampai di sebuah stasiun yang penuh dengan keju. Di sana sudah ada dua tikus Sniff dan Scurry. “Ah, andai saja ia bisa seberani dua tikus itu, pasti sudah sejak lama dia menemukan tumpukan cheese yang begitu banyak ini.”


 

Dari cerita ini saya merasa karakter saya berada di antara tokoh Hem dan Haw. Jujur saya masih suka berkeras kepala untuk tetap bertahan dan kadang sering menolak adanya perubahan. Namun di satu sisi, saat sudah terhimpit dan tak ada pilihan lain, akhirnya saya berdamai dengan keadaan dan mulai beradaptasi dengan semua itu.

Tentu masih menjadi PR yang berat bagi saya untuk bisa mengamalkan teori dua tikus Sniff dan Scurry. Saya masih belum bisa cekatan dalam memahami keadaan serta peluang. Saya juga masih suka berleha-leha dan menunda pekerjaan. Kadang terlalu banyak berpikir membuat kita ragu dan dipenuhi ketakutan. Berbeda dengan dua tikus ini. Mereka bekerja sesuai insting. Mencoba dan gagal. Sungguh tahan banting. Saya masih harus belajar akan hal itu.

Buku tipis yang sangat bagus sekali.

#ODOPDAY7 #ODOP8

 

 

 

1 komentar