Memilih Mendampingi Dari Nol Atau Memilih Memantaskan Diri Untuk Dipilih Pas Sudah Mapan?

 



 

“Aku sudah mendampingi dia mulai dari nol. Eh, pas udah sukses dia malah ninggalin aku buat orang lain.”

Mungkin sebagian orang cukup familiar dengan kalimat tersebut. Cerita pilu bin tragis tentang ketulusan dan kebaikan seseorang yang menemani orang yang ia cinta mulai dari yang mulai gak punya apa-apa dan gak punya nama, hingga akhirnya punya segalanya. Namun pada akhirnya kisah cinta romantis yang begitu tulus itu harus ternodai saat pasangan yang sudah jaya tersebut justru meninggalkan orang yang menemaninya dari awal demi seseorang yang baru dikenalnya setelah sukses.

Saya punya teman yang juga memiliki cerita serupa.  Dia dan kekasihnya sudah pacaran hampir 10 tahun lamanya. Dari si cowok ini masih STM, nganggur, kerja di bengkel, hingga akhirnya meneruskan kuliah. Sedangkan si cewek ini setelah lulus sekolah hanya bekerja sebagai karyawan pabrik. Dialah yang menyokong biaya akomodasi beserta tratiran makan plus rokok si cowok ini dari hasil gajinya.

Janjinya sih nanti setelah si cowok ini wisuda dan dapat pekerjaan tetap dia bakal meminang si cewek ini. Tapi yang namanya lidah gak bertulang, jadi yah janji tinggal janji. Pada kenyataannya setelah wisuda si cowok ini bekerja jadi guru dan setelah dia diangkat sebagai PNS, dia justru nikah sama rekan seprofesinya sesama guru. Katanya dia sudah gak level sama buruh pabrik. Ngenes kan ya. Rasa-rasanya pengen tak lempar pakai gada-nya Werkudara itu laki.


 

Ada juga kenalan yang sudah pacaran mulai dari sekolah. Si cewek meneruskan kuliah dan si cowok memutuskan untuk menjadi TKI di luar negeri. Selama masa pacaran itu, si cowoklah sponsor dari produk-produk skincare serta baju dan tas yang kece-kece si cewek ini. Sehingga si cewek ini nampak glowing dan menawan. Tapi apa yang terjadi? Saat wisuda si cewek ini bukannya ngajak cowoknya tapi malah ngajak cowok lain dong. Secara dia sudah punya title gitu loh.

Fix ya, jadi semua ini tidak mengacu pada satu gender. Karena pada kenyataannya, pelaku yang meninggalkan ini bisa perempuan dan bisa juga lelaki. Dan perlu digarisbawahi bahwa tak semua orang juga kayak gini. Ada juga kok orang-orang yang memang tetap setia dengan pasangan yang mendampinginya sejak awal meski dia sudah sukses dan kaya raya. Tapi yah itu, stoknya terbatas dan untung-untungan dapatnya. Hehehe

Sebenarnya tak masalah sih kalau kita memang mau mendampingi pasangan kita mulai dari nol. Tapi kita juga harus ingat, saat kita bercita-cita membuat pasangan kita menjadi orang hebat dan sukses, kita juga harus menyiapkan diri menjadi seorang pendamping yang sepadan.  Kadang karena kita kadung cinta, kita hanya fokus pada pasangan kita tanpa memikirkan diri kita sendiri. Kita berhenti belajar dan berkembang hanya untuk membuat orang lain terus merangkak maju.

Kalau keadaan ini dibiarkan terus, maka pasangan kita kan berjalan cepat dan semakin menjauh dari kita. Sedangkan kita masih tetap diam dan tak bergerak dari tempat semula. Lambat laun, nantinya akan terjadi ketidakseimbangan dalam berbagai hal. Entah itu dari komunikasi yang mulai gak nyambung, entah dari pergaulan yang kadang membuat kita gak nyaman, atau entah gaya hidup yang mungkin akan menjadi bertolak belakang satu sama lain. Kalau sudah begini, tentu baik kita atau pasangan akan tidak menemukan sebuah kenyaman dalam sebuah hubungan.

Pada dasarnya setiap orang selalu bergerak mencari sebuah kenyamanan. Makanya tak heran kalau akhirnya si pasangan ini lantas mencari seseorang yang bisa sefrekuensi dengannya dalam berbagai hal. Kalau sudah kayak gini mau gimana coba? Nangis tujuh hari tujuh malam pun dia tetap bakal milih orang lain kan ya. Mungkin yang ada kita hanya bisa merutuki tindakan bodoh kita yang salah dalam memilih orang untuk diperjuangkan.

Kalau kata seorang teman, “ketimbang kamu sibuk menemani orang dari nol, mending kamu sibuk menyiapkan diri untuk jadi orang yang bakal dipilih saat dia sukses nanti. Biarin aja dia ditemani orang lain pas masih susah, yang penting pas seneng dia milih kamu!”

Walau kedengarannya keji, tapi ada benarnya juga ucapan teman saya ini. Yah, iya ngapain kita buang-buang energi, waktu, dan uang untuk seseorang yang gak mesti jodoh kita. Lebih baik kita fokus membenahi diri. Duit buat traktir gebetan makan, mending buat bayar cicilan rumah atau beli skincare. Duit Buat beliin pulsa pacar, mending buat beli buku biar kita tambah pinteran dikit. Duit buat bayarin tiket nonton dan popcorn mending buat traktir orang tua makan bakso.


 

Apa pun pilihannya kita harus tetap terus belajar dan berkembang. Jangan berhenti untuk berproses. Mencintai orang lain tentu sah-sah saja, tapi kita juga tak boleh lupa untuk mencintai diri sendiri. Pastikan bahwa orang yang kamu perjuangkan itu memang pantas untuk kamu perjuangkan. Jadi jangan sampai kita menghabiskan waktu untuk seseorang yang punya prinsip, Kacang lupa sama kulitnya.

Tapi percayalah, saat kita berbuat baik secara tulus dan ikhlas pada orang lain, entah bagaimana caranya, ndilalah (kebetulan) kita pasti juga akan ditemukan sama orang yang baik dan tulus pada kita.

#ODOPDAY3 #ODOP #ReniSoengkunie 

pict: Unsplash.com

.

 

Tidak ada komentar