Menanggapi Perkataan ‘Enak Banget Yah Hidupmu’: Bila Rasaku Ini Rasamu

 


Saat ada banyak masalah dan ujian seolah bersilaturahmi terus menerus di hidup kita, tentu pernah sesekali kita merasa jenuh dan letih menjadi diri kita sendiri. Rasa-rasanya hidup ini kok gini amat yah. Gak ada manis-manisnya blas


 

Saya pun juga pernah merasakan ‘Kok hidupku kok gak kayak teman-teman yang lain yang hidupnya enak!’. Hidup mereka itu kayaknya bahagia dan mudah banget, gak kayak hidup saya. Terlahir dengan kulit coklat, muka biasa-biasa saja, rambut keriting, punya tahi lalat gede di atas bibir, dan dari keluarga yang pas-pasan ( pas mau minta duit, pas orangtua juga gak punya). Hehe

Tapi saat melihat teman-teman saya, hidup mereka itu kok kayaknya gmapang banget. Terlahir dengan muka putih tanpa harus perawatan segala, dan mau apa langsung dibelikan sama orangtuanya. Pernah dulu pas sekolah, teman saya itu sorenya bilang sama orangtuanya mau sepeda motor. Lah, kok paginya sudah dibelikan beneran sama orangtuanya. Kalau saya yang kayak gitu, mau guling-guling, nangis-nangis, teriak-teriak, gak bakalan dibelikan motor. Bukan karena gak mau membelikan, tapi emang gak ada duitnya yah gimana lagi kan ya. Saya percaya kok, kalau orangtua itu punya, apa sih yang nggak buat anaknya. Jangankan uang, nyawa aja mereka bakalan rela berikan untuk anaknya.

Kata Bapak, “kalau kamu itu terlahir bukan dari anak orang kaya maka kamu harus menjadi gadis yang cantik. Namun jika kamu juga terlahir tidak cantik maka kamu harus berusaha menjadi anak yang yang cerdas.” Jangan menjadi manusia yang apa adanya. Bagaimanapun kelak jika orang lain tak melihat diri kita lewat harta dan paras, paling tidak kita masih punya kepintaran yang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Bapak saya orang yang dari kecil hidupnya nelangsa sekali. Saya gak mau nyeritain bagaimana susahnya hidup bapak di masa lalunya, karena saya tidak sedang membuat biografi bapak di sini. Yang pasti cerita bapak itu jauh lebih menyengsarakan ketimbang cerita milik saya. Namun anehnya, tiap kali bapak bercerita tentang masa lalunya yang menyedihkan itu, bapak menceritakan dengan gaya bahasa yang jenaka dan tak ada raut sedih ataupun mengeluh. Saat kecil dulu, saya merasa bahwa kemalangan bapak itu adalah guyonan yang mengundang tawa orang lain yang mendengarnya.

“Dengan kamu mengeluh setiap hari dan sambat ini sambat itu pada orang-orang, itu tak akan mengubah segala penderitaanmu. Justru kamu malah menambah beban pada orang lain untuk ikut memikirkan masalahmu,” ujar Bapak.

Makanya dari kecil, saya berusaha sebisa mungkin membungkus rasa sedih dan masalah dari hidup saya. Saya menata ulang dan menyajikan cerita malang saya itu dalam bentuk guyonan yang kerap kali membuat teman-teman saya tertawa bahagia. Benar kata Bapak, saat saya menceritakan sisi malang atau kekurangan saya dengan cara menyedihkan, itu tak lantas membuat saya lega, namun justru membuat saya semakin lemah dan terpuruk. 


 

Urip ki mung sawang sinawang. Saya yang kadang merasa hidup saya ini kok berat banget untuk dijalani, merasa terkejut saat beberapa orang datang pada saya dan bilang, “Hidupmu kok enak banget sih! Ketawa terus kerjaannya dan happy terus gak pernah sedih”. Padahal orang yang bilang hal itu ke saya itu merupakan gadis berwajah cantik, anak orang kaya, siswi yang pintar di kelas, serta punya pacar tampan lagi. Lah kok orang kayak gitu bisa-bisanya iri sama hidupku yang kayak gini?

Di sini saya tidak sedang berpura-pura bahagia setiap hari. Saya hanya selalu bicara apa adanya dan berani mengakui kekurangan saya lewat cerita yang humoris. Jika banyak orang selalu menutupi kekurangannya, maka saya secara blak-blakan menertawakan apa kekurangan saya. Sehingga saya tak pernah merasa dibully atau membully diri sendiri. Secantik apa pun saya kalau saya gak percaya diri dengan wajah saya, yah gimana sih, tetap saja bakalan memandang wajah orang lain itu selalu lebih baik dari kita.

Saya selalu bilang terus terang pada teman-teman saya, saya bukan anak orang kaya, saya selalu jujur menceritakan bagaimana susahnya hidup sebagai anak dari buruh tani. Saya bercerita tak mencari iba atau rasa simpati, saya hanya ingin mengakui, ini loh hidup saya. Dengan wajah ceria dan bercerita dengan semangat sambil menertawakan hidup yang saya jalani dengan teman-teman ternyata membawa dampak positif pada diri saya. Dan tanpa saya sadari, ada banyak teman saya yang kemudian berani mengakui kekurangan mereka dan tidak menjadikan kekurangan mereka itu sebagai penyebab mereka merasa minder dalam lingkup pertemanan. Karena jujur saja, pas sekolah itu teman-teman saya itu rata-rata anak orang berduit semua.

Makanya bila ada yang bilang, “Hidupmu kok enak banget sih!” Saya akan meresponnya dengan senyuman lebar dan menjawabnya dengan mantap, “Jelaslah, ngapain juga hidup dibawa susah.” Padahal dalam hati, busyet habis cerita ditolak sama orang, masih aja dikatain hidupku enak. Enaknya di mana coba. Hmm

Tak bercerita atau mengeluh di medsos itu bukan berarti saya tak punya masalah. Tapi dengan mengumbar masalah begitu hanya akan menambah masalah di hidup saya. Jadi, sedih boleh tapi jangan berlebihan. Kecewa boleh, tapi tak boleh kebangetan. Karena pada akhirnya, semua masalah kita itu akan menjadi bahan cerita di masa depan yang akan kita tertawakan bersama orang lain. Lebih baik membuat orang lain bahagia dengan cerita malang kita, ketimbang membuat orang lain tambah tertekan dengan masalah yang kita hadapi.

Saya suka heran, sama orang-orang yang ingin menjadi seperti saya ataupun iri dengan kehidupan saya. Andai saja mereka jadi saya sehari saja, saya yakin mereka juga gak bakal kuat dan minta balik lagi jadi dirinya sendiri. Jangan pernah terus-terusan menganggap hidup orang lain itu lebih bahagia dari hidup kita, karena bisa jadi hidup mereka memang lebih membahagiakan dari yang kita kira. Hehehe

 

Tidak ada komentar