Menulis Itu Sederhana, Yang Sulit Itu Konsistennya



Bagi sebagian orang yang sudah terbiasa menulis, mungkin menganggap bahwa menulis itu bukan sesuatu yang sulit. Hanya saja tidak semua orang yang bisa menulis mau membiasakan diri untuk rajin menulis. Mereka sering terjebak dalam dilema mood yang jelek, rasa malas, atau tidak bergairah.  Mungkin bisa dibilang, ‘Menulis itu sederhana, yang sulit itu konsistennya’.

Saya sendiri menyadari kebiasaan jelek itu sering menghinggapi saya. Kadang ada banyak ide yang berseliweran di kepala, hanya saja untuk menggerakan tangan supaya mau menulis ini beratnya kayak menjinjing kantong plastik yang isinya batu bata sama adukan semen. Di benak saya itu kadang menggebu-gebu pengin nulis ini dan itu, hanya saja kemalasan kadang lebih berkuasa atas diri ini. Oh, betapa sulitnya untuk belajar konsisten dalam menggeluti dunia menulis ini.

Saya biasanya menulis hanya sesuai mood saja. Kalau mau nulis ya nulis, kalau nggak mau nulis, yah nggak. Saya selalu berlindung di balik kata ‘SIBUK’. Padahal sibuk bukan alasan seseorang untuk tidak menulis. Kadang kalau lagi waras, saya suka mikir, saya  sebenarnya juga sudah sangat malas untuk menjadi seorang  pemalas. Tapi yah mau gimana lagi.

Gara-gara kemalasan saya ini blog saya sudah sampai kayak rumah hantu karena saking lamanya tidak saya sentuh atau kunjungi. Kalau lagi pas sadar gitu, saya suka merasa bersalah dengan blog saya ini. Seolah saya sudah mendzoliminya. Gimana sih rasanya sudah dimiliki tapi tidak dirawat dan dijaga dengan baik. Kan jahat yah?

Beruntung saya memiliki teman-teman di sekitar saya yang selalu menularkan energi positifnya. Selalu memberi semangat saat saya merasa enggan untuk menulis. Salah satu blogger kesayangan saya itu Mbak Jihan Mawaddah dengan blognya jeyjingga.com . Mbak Jihan ini kurang sibuk apa orangnya. Sudah bekerja bagai kuda, masih harus mengurus anak dan suami di rumah, aktif di komunitas, baca bukunya kenceng kayak Bus Handoyo jurusan Jakarta-Jogja, dan masih bisa-bisanya dia menulis setiap hari. Saya yang setiap harinya cuma goleran di kasur ini merasa insecure kalau mau bilang nggak nulis gara-gara sibuk.


 

Dari Mbak JIhan inilah, saya dikenalkan dengan Komunitas One Day One Post alias ODOP. Sebuah komunitas yang menantang kita untuk menjalankan misi menulis setiap harinya. Mbak Jihan selalu bilang, untuk belajar menjadi konsisten kita butuh tantangan.  Jangan ngaku warga Capricorn kalau menyerah sebelum perang katanya. Ada banyak hal yang bakalan di dapat dari komunitas ini. Ilmu, teman, serta pengalaman.

Ada yang bilang untuk bisa tumbuh, kita harus memaksakan diri mengubur bibit yang kita punya di dalam tanah. Itu tentu butuh keberanian dan tekat yang besar. Apakah setelah itu pohon kita akan tumbuh? Tentu saja tidak. Kita tetap butuh menyirami dan memupuk bibit itu secara rutin. Kita harus belajar banyak hal untuk membuat pohon kita tumbuh dengan baik. Kita harus tetap bergerak meski kita masih berada di dalam tanah dan belum ada tanda-tanda kesuksesan. Bahkan saat kita muncul di permukaan sekali pun, akan ada banyak halangan yang menjegal kita untuk tumbuh.

Entah itu diinjak orang hingga tunas kita mati. Entah itu tersengat matahari yang begitu panas hingga daun kita layu. Entah kita daun kita dimakan kambing, hingga kita tak punya apa-apa. Entah hujan badai yang merobohkan batang kita. Apa pun itu akan selalu ada cobaan untuk membuat kita menyerah. Tapi di samping itu akan ada banyak hal yang membuat kita memiliki alasan untuk tumbuh menjadi sebatang pohon yang kokoh dan meneduhkan banyak orang. Itulah proses yang harus dijalani.


 

Bersama Komunitas One Day one Post (ODOP) ini, saya belajar untuk lebih konsisten. Belajar menerima tantangan untuk tetap menjaga semangat dalam menulis. Menerima tantangan untuk tetap terus belajar dan belajar. Menerima tantangan untuk menguatkan niat agar bisa menyelesaikan misi panjang ini. Semoga saya mampu menyelesaikannya dengan baik. 

#ODOP8 #ODOPDAY5 #RENISOENGKUNIE

 

Tidak ada komentar