Pengalaman Kejeblukan Long Bumbung: Meriam Dengan Kearifan Lokal Ala Anak Jadul


 

Di zaman dulu permainan yang begitu ngetren dan diminati anak-anak itu salah satunya adalah bermain long bumbung. Ini adalah permainan petasan dengan menggunakan daya kreatifitas dan tentu saja bujet minim. Karena pada masa itu tentu saja anak-anak tak akan sanggup membeli petasan instan yang sekali dinyalakan korek langsung berbunyi ‘DORRRR’. 

pict: Ngalam.co

 

Long bumbung ini berbentuk seperti halnya sebuah meriam, hanya saja terbuat dari bambu. Bambunya bebas mau menggunakan bambu jenis apa, yang pasti bambu tersebut memiliki diameter kurang lebih 15-20 cm. Potong bambu tersebut kira-kira satu meter panjangnya. Lalu ruasnya yang ada di dalam  harus kita hilangkan alias dilubangi. Tapi pastikan yah, bagian paling bawah dibiarkan ada ruasnya, jangan semua ruas dihilangkan, nanti bolong semua. Karena nanti kita akan mengisinya dengan bahan bakar peledak. Hehehe.

Setelah itu lubangi kecil pada bagian atas di sisi bawah dekat ruas terakhir. Kalau sudah jadi seperti ini lalu kita tinggal meletakan batu penyangga di bagian bawah. Jadi nanti bentuknya menjulang ke langit gitu. Kalau sudah begini, kita tinggal memasukan minyak tanah secukupnya. Lalu kita ambil kayu kecil, celupkan pada minyak tanah, nyalakan api, lantas masukan pada lubang kecil yang terisi minyak tanah itu. Maka bakalan langsung terdengar suara menggelegar, “DWEEERRRRRRR”.

Semakin keras suara yang dibunyikan maka bakalan seru suara sorak-sorak anak-anak yang bermain. Biasanya ini adalah permainan yang sering dilakukan anak laki-laki. Tapi berhubung ketiga kakak saya itu laki-laki, saya pun sejak kecil sudah ikutan bermain permainan ini. Kakak saya membuat empat long bumbung dan kami memainkan bersama di belakang rumah tiap sore. Suaranya menggelegar bersaut-sautan. Kadang kalau kami main agak siang, kami bakalan kena marah karena berisik. Saat itu saya sebel banget sama orang dewasa, kok kayaknya orang dewasa itu pada sensi banget sih sama suara petasan kayak gini. Gak seneng banget lihat orang senang. Tapi setelah saya dewasa, saya baru paham, mendengar suara anak-anak main kayak gitu tuh emang bikin tekanan jiwa. Neng ati marake tratapan. Hish.

Nah, selain punya pengalaman menyenangkan bermain long bumbung ini, saya tak akan melupakan insiden yang terjadi pada saya 25 tahun silam. Saat itu kayaknya saya masih berusia empat tahun. Saya dan tiga saudara saya seperti biasa bermain long bumbung di sore hari. Sebelumnya ibu saya sudah teriak buat berhenti, karena langsit sudah mau mulai gelap. Tapi kami mengabaikannya.

Tak beberapa lama ada yang janggal dengan long bumbung saya itu. Tiap saya nyalakan, gak keluar bunyinya. Karena kesal, maka dengan polosnya, saya mengintip lubang di bagian bawah dong. Lalu tiba-tiba, “BWELLLLL” ( Maaf bunyi kobaran api gimana sih). Pokoknya ada kobaran api besar yang keluar dari lubang kecil yang langsung menyambar muka saya. Secara sederhananya, saya kejeblukan long bumbung.

Saya kira muka gosong karena kejeblukan bom itu hanya ada di serial Tuyul dan Mbak Yul, tapi akhirnya saya mengalaminya juga. Muka saya gosong dan benar-benar gosong. Rambut saya yang keriting, makin keriting dan bau rambut bakar. Ketiga kakak saya yang tepat berada di samping saya bukannya nolongin malah ketawa kepingkal-pingkal semuanya karena melihat muka adik bungsunya yang sudah kayak singkong bakar. Tapi anehnya saya sama sekali gak nangis dan cuma bingung aja. Kejadiannya itu begitu cepat.

Tak beberapa lama, ibu saya datang dan berteriak histeris. Di pikiran ibu sudah macem-macem membayangkan kalau muka saya bakalan rusak dan akan meninggalkan belang seumur hidup. Waktu itu sudah sore, puskesmas juga sudah tutup. Jangan tanya kalau saya bakalan diajak ke dokter atau rumah sakit, karena itu gak mungkin. Pertama karena kami gak punya kendaraan dan kedua karena kami gak punya uang untuk membayar dokter kala itu. Untung saja, ayam kampung peliharaan kami itu tengah bertelur. Jadi ibu segera mengoleskan putih telur ke muka saya.

Keesokan harinya muka saya sudah membaik seperti sedia kala. Hanya saja alis saya sudah gundul semua dan rambut saya masih jabrik keriting habis kebakar gitu. Namun sampai sekarang alis saya itu tipis banget dan hanya keluar setengah saja gara-gara hal itu. Padahal kalau melihat alis saudara-saudara saya, seharusnya saya memiliki alis yang lebat. Tak apalah, orang sekarang juga ada pensil alis ini kan ya.

Setelah kejadian itu, ibu membuang semua long bumbung. Namun hal itu hanya bertahan satu minggu saja. Karena setelah seminggu kemudian, saat amarah ibu mereda, kami kembali mengangkuti long bumbung yang dibuang tadi kembali ke belakang rumah untuk dimainkan kembali. Meski muka sudah gosong, rambut sudah keriting semua, dan sudah pernah merasakan disulut api yang begitu besar dari lubang long bumbung, tapi saya tetap gak ada kapoknya. Yah, gimana lagi, habis seru sih. Hanya saja sejak saat itu  saya sudah gak berani mengintip lubang lagi.

 

Tidak ada komentar